Posted in Uncategorized

Aku Siap, Ayah (2)

Seminggu sudah aku kembali ke sini, ke padepokan ini, ke rumah ini, ke kamar hangat ini. Sempat kulupa apa tujuanku kembali, karena tidak akan ada lagi pelukan hangat dari Abah dan Ibu. Tapi, mereka juga yang membuatku kembali, karena padepokan ini mereka dirikan untuk menemaniku bertumbuh.

Namaku Sore Laksita. Abah dan Ibu memanggilku Rere, selain itu aku dikenal dengan nama Sita. Oh, tentu saja aku bukanlah anak kemarin sore, sudah 21 tahun usiaku. Aku seorang yatim piatu, kalau boleh kubilang seperti itu. Abah dan Ibu telah lebih dulu berpulang. Tak banyak kukenal saudara dari kedua orangtuaku, dan aku tak pernah bertanya. Cinta mereka untukku selalu berlimpah ruah, tak sanggup kuteguk seluruhnya namun aku selalu merasa haus.

Abah memegang tanganku kuat, di ujung nafasnya beliau mengatakan bahwa aku bukanlah anak kandungnya. Aku tak tahu harus menjawab apa, perkataannya membuatku oleng. Aku kehilangan makna hidup. Jika bukan Abah, lalu siapa? Dan Abah pun mengucap satu nama, yang bahkan belum pernah kudengar. Abbad Nabhan.

Abah dan Ibu meninggalkan sebuah kotak kayu, dan ditujukan kepada Abbad Nabhan. Bagaimana aku bisa menyerahkan kepada orang yang bahkan aku tidak tahu keberadaannya?

—————

Beratus purnama sudah kutinggalkan kota ini. Kota kecil penuh kenangan indah, tapi menyakitkan untuk kuingat.

Kukubur cintaku di kota ini. Kutanggalkan persahabatanku. Kubakar serpih kenangan yang ada. Kujual jiwaku agar tak ada lagi ikatan tersisa antara aku dan kota ini, Jogja.

Berita tentang meninggalnya sahabatku sampai ketika aku ingin kembali merajut ikatan yang terkoyak. Aku yang telah bersalah menggunting talinya, agar aku bisa terbang.

Wahai Sahabat, maafkan aku yang terlalu pengecut ini.

“Pak, Abah Ayub sudah meninggal beberapa bulan lalu.” Ucapan pihak penyelenggara pameran membuatku kelu.

“Abah Ayub punya padepokan seni yang cukup ramai dijadikan tempat latihan sekaligus kongkow para seniman. Mungkin ada satu dua teman Pak Abbad yang lain ikut mengisi di sana. Saya bisa antar Pak Abbad kesana kalau Bapak mau.” Lanjutnya.

“Terima kasih, tapi saya akan kesana sendiri. Tolong dicatatkan saja alamatnya. Sekalian saya mau melihat Jogja sekarang seperti apa.” Hanya itu yang mampu kuungkapkan.

————

Rumah dengan bata exposed, rooster terakota, pintu kayu berukir, serta pendopo beratap joglo di sisi samping bangunan utama menyambutku sore itu. Kulihat cukup banyak anak muda disana. Aku sadar umurku sudah tak lagi muda, tapi gairah muda mereka ternyata menular kepadaku.

“Selamat Sore, maaf Pak, apa Bapak ini Pak Abbad Nabhan? Pelukis yang sedang pameran di Pairotaman?” Seorang pemuda mendekati dan menjabat tanganku.

Ahhh, rupanya ada yang mengenaliku di sini. “Ya benar, saya Abbad.”

Terdengar gemuruh sorai dari belakang, dan kemudian mereka menyalamiku satu persatu. Entah apa yang mereka pikirkan ketika menyalamiku.

“Taa… Sitaa… Ada tamu agung datang, Ta!!!” Teriak pemuda berpotongan gondes ke arah jendela rumah induk. “Abbad Nabhan, lho Taa!!! Pelukis yang lagi pameran itu Taa!!!”

Rasanya aku tak perlu lagi memperkenalkan diri. Pemuda itu sudah bertindak sebagai corong identitasku. Kubersandar pada salah satu soko area joglo sembari memandang sekitar, hunian yang sangat nyaman. Sansiviera tertata rapi, angsana menjulang memayungi kendaraan yang parkir, sirih gading tampak malu-malu merambati area pagar.

Seorang gadis keluar dari bagian belakang rumah, langsung menuju pendopo. Dia berjalan mengiringi seorang perempuan paruh baya yang membawakan teh poci dan pisang goreng.

Muka ituuu…. Paras ituuu…. aku mengenalnyaaaaa….!!!!

——————-

Teman-temanku datang ke pendopo, mereka ingin berlatih seperti biasa.

“Kalian latihan sendiri aja ya. Maaf aku gak bisa nemenin. Aku masih capek, baru pulang dari kampus tadi. Persiapan untuk ke Singapura minggu depan.”

Kuucap maaf tidak bisa menemani seperti yang sudah-sudah. Pikiranku penat. Perjalanan ke Singapura hanya alasan. Toh, mereka sudah terbiasa di sini, pendopo ini rumah kedua mereka. Mbok emban pun sudah mengenal mereka dengan baik.

Kuhanya ingin terpejam, dan ketika membuka mata aku ingin mendapati kenyataan yang lain.

Aku yang memutuskannya, ya AKU!!! Seharusnya dia yang menderita, tapi kenapa kuikut merasakan perih. Dia yang bermain api, dia yang memilih untuk membakar hubungan ini. Maka, biarkanlah aku yang menyiram air, agar tidak ada lagi bara tersisa. Kuharus pastikan, bara itu harus benar-benar mati.

Air terasa segar untuk pengelana yang haus, tapi akan terasa perih ketika mengenai luka.

Jendela kamar kubiarkan terbuka agar angin sepoi mampu membiusku. Musik pengiring latihan tari merupakan lullaby untukku. Musik itu yang menyelimuti kenanganku bersama Ibu. Setiap kibasan sampur mengirimkan rinduku kepada Ibu. Perasaan hangat dalam dekapan Ibu terasa dekat, hingga kudengar teriakan temanku dari arah pendopo,

“Taaa… Sitaa… Ada tamu agung datang, Ta!!!”

Sontak kuterlempar dari mimpiku. Njenggirat, aku langsung berdiri dari kasur ketika mendengarnya. Kucoba pahami apa yang membuat jantungku menggenjot darah dengan cepatnya. Ya, karena nama itu, Abbad Nabhan.

Kurapikan bajuku, kubasuh mukaku, kupoleskan sedikit lip balm. Kumelangkah menuju dapur. Budhe Jirah ternyata sudah siap dengan teh poci, gula batu, dan pisang goreng hangat.

“Mbak Sita, ini tadi teman-temannya bilang ada tamu istimewa. Terus mereka minta budhe untuk bikin wedangan”

“Ya Budhe, ini Sita mau nemuin tamunya. Yang datang itu teman Abah dan Ibu.”

“Ini mau dibawa Mbak Sita atau budhe?”

Budhe Jirah menunjuk pada nampan yang penuh terisi. Aroma teh melati menguar, berpadu dengan uap manis pisang goreng.

“Klo Budhe yang bawain ke depan gak papa kan? Sita nemenin Budhe deh, biar Budhe gak digangguin temen-temenku itu….”

Aku mengelak. Aku membutuhkan budhe untuk menenangkanku, aku tak yakin aku kuat menyajikan minuman ke sosok itu.

“Halah Mbak Sita, Budhe udah biasa ketemu temen-temennya Mbak Sita koq yo… Hayo Mbak, Mbak Sita di belakang Budhe aja ya, biar gak ketumpahan teh panasnya.”

Terima kasih Budhe. Kupejamkan mata, kutarik nafas panjang, kupastikan setiap hirupan oksigen mampu menembus semua dinding alveoli-ku. Kubiarkan hembusan angin senja melembutkan degupan jantung yang tak beraturan.

Abah, Ibu, AKU SIAP!

Posted in Uncategorized

Ayah, Aku Datang (1)

Disclaimer: bakal apdet ntah kapan2 lagi, sebuah fan-fiction utk tulisan NdaKabhi. Aimisyuh Ndaa!!

———————-

Hai semua, namaku Anjani. Panggil saja Anji, sebagaimana Mommy, Kakek, Nenek, dan Om Angga memanggilku. Kenapa cuma Mommy, kmana Daddy? Dari kecil, aku selalu berdua sama Mommy, karena Daddy sudah di surga.

Masa kecilku, habis di Magelang, kota kecil di utara Jogja, bercuaca sejuk, dan memiliki julukan Kota Bunga. Hanya ada aku dan mommy. Hingga aku mengenal beberapa sahabat mommy, Om Angga, Om Semesta, dan Om Pradana. Sampai akhirnya, mommy memutuskan pindah untuk mendekati kakek nenek di Lampung.

Dan sekarang, yah, aku di Lampung, Tanjung Karang lebih tepatnya. Aku meninggalkan Magelang ketika usia TK B. Apakah selepas SD ini aku akan meninggalkan Tanjung Karang?

“Anji, mommy mau cerita suatu rahasia sama Anji”, ucap mommy tadi malam, sebelum aku tidur.

“Mom, but secret is a secret, right? Kata mommy, klo rahasia artinya gak boleh diceritakan ke orang lain.”

“Sayang, mommy pernah janji ke Anji, kalau mommy mau diantara Anji dan Mommy gak boleh ada rahasia, karena mommy cuma punya Anji.” Mommy mengambil napas panjang,

“Anji, tolong maafin mommy ya, selama ini mommy udah bohongin Anji. Anji masih inget Om Pradana? Yang pernah foto bareng sama kita, pernah nolongin mommy waktu di rumah sakit?”

“Yes, Mom. Kenapa Om Pradana?”

Mommy menatap mataku, kemudian mencium kepalaku, aku dipeluknya erat,

“Anji, Om Pradana itu ayahnya Anji. Maafin Mommy ya, Nak. Mommy baru bisa kasih tau sekarang. Anji masih punya ayah, sama kayak anak-anak lain.”

Mommy mengambil lembaran akte kelahiranku, dan disana tertulis nama ayahku adalah Pradana Danubroto. Mommy terus memelukku, dan mommy menangis.

“Mom, Om Pradana tau klo Anji ini anaknya?”

“Om Pradana tau. Mommy sering kirim kabar tentang Anji ke Om Pradana. Maafin mommy ya Anji” mommy terus menangis. Kuhapus air mata ibuku tersayang, kutatap matanya, mommy harus tau I’m okay.

“Mom, boleh Anji ngomong langsung sama Om Pradana? Mommy bisa tolong telepon Om Pradana untuk Anji?”

——————-

Hampir jam 9 malam, berkas pajak untuk Teratai Batik cabang Jogja sudah kuperiksa ulang, fyuuhhh ternyata urusan pajak usaha ini sangat rumit. Tidak heran, Bapak sampai punya beberapa orang kepercayaan sekaligus untuk mengurusi bisnisnya di Solo. Sepanjang yang mampu kuingat, Bapak tidak pernah membawa pulang setumpuk faktur pajak ke rumah.

Apakah mungkin itu sebabnya, dahulu Bapak tidak langsung setuju ketika aku ingin membuka cabang di Jogja. Aku akan selalu dianggap anak kecil dan tidak mampu oleh Bapak dan Ibu. Yah, walau memang alasan utamaku saat itu sangat menjijikan. Aahhh, sudah 6 tahun berlalu.

Inge calling

Kulihat dengan cermat nama di layar. Inge, mantan istriku, menelpon malam-malam begini, tidak biasanya. Selalu aku yang menelponnya lebih dahulu, dan dia akan menjawabku acuh. Dia lebih suka komunikasi dengan WA, sebatas teks.

“Hallo, Om Pradana…”

Terkejut!! Itu Anji, anakku Anji…

“Hai , Anji…” kutak mampu berkata-kata lebih lanjut, aku memutuskan bersandar di atas dipan, di sebelah kolam renang. Nafasku berpacu cepat, yaaa kuakui aku gugup!!

Tiada kata di antara kami, kami hanya saling memandang layar HP.

“Halo, Om … Halo… Om Pradana udah mau tidur?”

“Hai Anji, nggak … nggak koq.. Anji gak ganggu…”

Damned shit!!! Jaka sembung bawa golok, gak nyambung goblok!! Bukan ituuu yang Anji tanya… wahai otak dan lidah, tolong kalian bekerjasamalah dengan baik.

“Oh, Om lagi sibuk ya? Ya oke, Anji tutup aja ya telponnya.”

“Anjiii… Anjii… tunggu, Om gak lagi sibuk. Om lagi ngelamun di pinggir kolam renang. Anji suka renang kan?”

Terima kasih Inge, selama ini kamu selalu mengirimiku gambar Anji dan aktifitasnya. Aku bisa tenang sejenak, mengarahkan kamera ke arah kolam renang. Aku tidak mau Anji melihat ayahnya gagap, ehh ayahnya?? Aku sendiri tak tau apakah Anji mengetahui kebenaran itu.

“Wah Om, kolam renangnya cantik. Ada pantulan bulan di air kolam. Om Pradana lagi liburan ya?”

“Nggak Anji, Om lagi ada di rumah. Sendirian aja kayak hari-hari biasa.”

“Oke,Om. Om, udah dulu ya teleponnya. Nanti kapan-kapan Anji telpon lagi ya… Atau Om yang telepon mommy yaa… dadah Om, selamat malam”

“Malam Anji, bobok yang nyenyak ya. Salam untuk mommy.”

Anji, terima kasih untuk malam ini. Aku tak sanggup membayangkan, apakah kau siap menerimaku sebagai ayahmu, bukan sekadar teman dari ibumu. Anji, apakah kau akan memanggilku ayah?

Inge, terima kasih untuk malam ini.

Kalimat singkat kukirimkan kepada Inge. Tak kuharap balasan, seperti yang sudah-sudah. Aku sadar, luka yang telah kugoreskan teramat dalam.

Aku sudah menceritakan semuanya. Anji yang memintaku untuk menelponmu tadi.

Malam ini terasa panjang, aku tak mampu lagi untuk berfikir. Apakah aku siap untuk menjadi ayah?

————-

Posted in life, travel

Bye 2020, Tahun Dadas Bundas

Disclaimer: Bundas di sini bukan bentuk jamak dari BUNDA yaaa, macem di sesuatu forum kui kae… Hai, Bundas …

Karena, penulis gak punya panggilan Bunda, walopun dia BUNDER

Taun 2020 ini adalah sebuah taun yg sungguh IHWAWWW LUAR BIASA ASELOLE SYUDUDU DAMDAM ASIK ASIK JOSS!!! pokoknya taun yang bener-bener bikin SPEECHLESS!!!! Gk bisa diungkapkan dengan mudah. Mungkin kita, aku dan kamu, yang ngebaca ini ngerasain hal yang sama…

Taun yang bikin semua rencana porak-poranda, taun yang bikin dunia kebolak-balik macem bartender lagi ngeracik cocktail… taun yang gak ada dalam perencanaan ataupun resolusi taun baru manusia pada umumnya…

Sampe di hari terakhir taun 2020, kita beneran gak ada yang tau perjalanan roller coaster ini kapan akan berakhir, dimana ujungnya, kapan bel-nya bunyi, sehingga kita sebagai penumpang bisa turun dengan lega dan lapang setelah puas bengak-bengok pas naek wahana… kita cuma dikasih aba-aba untuk selalu waspada untuk belokan tajam dan semakin menukik …

Banyak orang kehilangan keluarga, sahabat, tetangga, atau bahkan orang lain yang sekedar lewat di kehidupan … Kehilangan pekerjaan, kehilangan tempat untuk bersandar… terlalu banyak kehilangan, sampe tiba waktunya di ujung 2020 …

Jargon yang paling terkenal di taun ini,

2020 itu cuma terdiri dari 3 bulan, Januari, Februari, dan PANDEMI

Hwayoo… pengen rasanya ngelupain hal-hal yg bikin syediihh di taun ini, tapi ya luka itu akan terus ada kan yaaa…

Daripada mikirin luka, aku milih untuk berterimakasih untuk apa yang udah aku syukuri di taun 2020 ini

  • Merasakan dapur ngebul kembali, ini bener-bener berasa banget… yang biasanya hampir selalu jajan makan siang tiap abis jemput sekolah, sekarang otomatis kompor nyala terus untuk keperluan makan 3 kali sehari di rumah. Pas awal pandemi, si ndori bisa dijadiin asisten dapur, karena dia masih penuh semangat untuk menjalani #dirumahaja … kalo sekarang??? JELEH!!! 打打
  • Ngerasa punya tabungan, faktor yang ternyata signifikan utk penyumbang saldo terbesar adalah MUDIK plus mblakrak nglencer wisata kuliner dan syalalalili. Adanya si koronces ini, otomatis gk ada agenda mudik ngulon atanipun ngetan. Sampe bludreg aja di Kota Gudeg. Walo buntutnya si saldo yaaa tetep bubaarr jalaaannn 不不
  • Aktivasi internet banking 五五 makasih lhoo pandemi… mungkin klo gk gara2 si koronces ini, gw bakalan tetep jalur konvensional yang klo mau transfer2 ngacir ke ATM
  • Punya duit jajan 不不 ya ini hasil dari dapur ngebul tadi, karena pengennya klo masak sekalian banyak sekalian capek, jadinya nawarin ke temen plus maksa untuk sekalian beli masakan makasih untuk Dedek Ici yg jadi penghubung diantara tante-tante kelaparan, wooyy Dek Ici… kapan balik Jogja h
  • Duit jajan lagi dari hasil jualan bluder tipis-tipis geje, soalnya klo diitung-itung, profit jualan bluder ini gak sebanding bahkan nombok biaya jajan dan upahnya si ndori untuk itu berterimakasih kepada Ritra sebagai pemasok bluder dari Madiun dan Mama Z sebagai partner ambil bluder tengah malem di Lempuyangan. Tapi, hepi gitu deee 予予
  • Dalam 1 tahun ini gak jajan GINCU!!! Suatu pencapaian tanpa rencana ya, karena sadar diri aja, itu gincu mo dipake kemana dan kapan, ketutupan masker pula kan yaaa
  • Si Kucrit akhirnya bisa nyampe di ujung jari kakinya Gunung Fuji. Klo dulu kakaknya cuma bisa sampe bawahnya kaki Gunung Manglayang, sekarang si kucrit bisa dapet pemandangan puncak Gunung Fuji tiap buka jendela kamarnya. Ini harusnya si kucrit bikin tulisan sendiri tentang rollercoaster-nya menuju kampung Fuji.
  • Papa Mama SEHAATT SEMUAAAA ALHAMDULILLAH!!! Papa itu salah satu yang bikin deg-degan perkara koronces ini. Papa punya beberapa komorbid dan statusnya lansia pula. Alhamdulillah, akhir taun ini si papa malah punya maenan baru… sepasang ayam kate
  • Hadeehh, sepasang kakek-nenek yang jauh dari anak cucu boncengan naek motor ke pasar dan pulangnya bawa sepasang ayam kate

Si Ndori, ini dia biang dadas bundasnya!!! Taun 2020 ini, dia ntah sudah berapa banyak menggoreskan luka bin lecet di badannya … beberapa legging terpaksa pensiun dini karena udah sobek disana-sini …

Ada 1 hal yang berhasil dia kalahkan di taun ini… DIA BERANI JATUH … selama ini selalu takut dan ragu untuk menjatuhkan badannya sendiri… dan lihatlah sekarang… dia bangga udah membuat celananya kembali sobek di sisi kiri dan kanan sekaligus

tinggal emaknya puyeng aja ngegantiin celana yang mendadak turun kasta 返返 babay tabungan!!賅

SELAMAT TAHUN BARU 2021

Semua yang terbaik untuk kita di tahun yang baru. Semangat yang perlu dikipas lagi, jangan cuma semangat ngipasin jagung bakar aja pas pergantian tahun.

Satu hal yang perlu diinget nih, kalo kita bersama-sama, perjalanan emang bakal lebih luamaaa… tapi, kita bakal bisa lebih jauh lagi untuk melangkah. Kita bakal punya ekstra tangan untuk mijitin, bahu untuk mindahin beban, kuping untuk dijewer dan dengerin bacotan, bahan ghibah tiada habisnya, serta lambe lamis yang tak henti ngecepres supaya ramai rasanya kayak nano-nano.

Sungguh motivasi yang luar biasa bukan??!!!

Jadi, mari kita Bro n Bra, untuk sama-sama menguatkan mental, saling pegangan tangan walo social distancing untuk tahun 2021 ini.

Kita bisa nembus ini semua bareng-bareng koq… YUKSS!!! CUSSS!!!

Pintu teater 2021 telah dibuka, kepada para pembaca yang telah memiliki tekad dipersilakan memasuki petualangan dan jangan lupa menggunakan sabuk pengaman

Manusia haluu akibat gak nonton bioskop selama setahun

Posted in PJJ

PJJ, IPS Kelas 5

Hallooww…

Lama tak jumpaaaaa!!!

Yaa bukan lama tak jumpa sih, tapi karena gw-nya aja yang TERLALU LEMBAM untuk kembali goblog … heuheuheu…

Entahlah, masa pandemi yang ntah kapan akan berakhir ini menjadikan gw yang udahlah lembam, ketambahan dapet bonus lamban… sungguh kombinasi yang cucok beud … macem kata wong londo, couples made in heaven saking klop nya…

Lamban dalam hal apa???

Owh jelas… kinerja otak tampaknya berkurang cukup signifikan dengan kegiatan yg bener- bener berkutat di dapur, sumur, kasur, tempur, dan tak lupa berkumur … jangan tanya masalah pupur, karena sudah ajur 不不不

Lola kalo kata istilah anak 90an, alias loading lambat… heuheuheu…

Ketika koneksi internet udah fiber, saya merasa kemampuan prosesor saya masih tersambung ke internet dial-up

BHAIIQQLAAHHH…

Si ndori seperti hampir keseluruhan anak Indonesia lainnya juga menjalani PJJ alias Pembelajaran Jarak Jauh…

Saluuttt!! Angkat topi untuk para guru!!! Jasamuuu tiadaaaa taraaa… *nyanyik*

Karena, yang bisa kulakukan hanyalah angkat tangan dan melambai ke kamera, sambil angkat kaki alias kabur…

Ini salah satu bahan pelajarannya ndori, tentang kondisi geografis dan keberagaman suku…

Untuk baju daerah yang mainstream si ndori udah bisa jawab sendiri… tersisa beberapa gambar untuk dicocokkan… (plisss maafkan itu jari dan tangan si emak yang montog bagaikan sisiran pisang kepok)

Salah satunya gambar sepasang manusia, ke-4 dari atas…

N: ini tuh mana toh, Mbu?

Diambil dari buku tema 1 diknas, kelas 5

A: (emak aslinya juga gak yakin 100%) itu dilihat yang lakinya, iketan kepalanya mirip sama hiasan kepala dari mana? Terus cara pake sarungnya gimana? (Tampak hasil urekan emaknya)

N: hmmm… kayak iketan kepalanya Bali, tapi kan Bali udah ada mbak yg nari itu…

A: nah, yg terdekat dari Bali apa?

N: Nusa tenggara berarti… (terus dia narik garis) … ini yang nari, di atasnya Nusa Tenggara apa?

A: liat kepalanya, itu mirip sama mana? Liat motif kainnya, liat gerakan tangan si mbaknya… kayak gimana?

N: bukan tari jawa, tangannya gak begini… itu kepalanya kayak udang atau lobster yang di iklan restoran gitu… gede-gede…

(ZOONK!!!!)

A: iya bukan, tangannya tuh begini… (emak meragain di balik layar sekaligus sedikit gerakannya)

N: haduuhh apa yaaa… kayak tari piring tapi bukan, tapi kainnya kayak onti punya (si kucrit kan dapet seserahan songket) …

A: nah, tari piring dari mana? Kainnya onti dari mana?

N: dari Oom Idin …

A: Yeeeee…. maksutnya dari daerah manaaa??!!! (Emak mulai nge-gas) nama tariannya Tor-Tor, kegiatan narinya itu disebut Manortor

N: tari piring kan dari padang tuu, Sumatera Barat yaa… klo Oom Idin dari Palembang…

A: nah, itu berarti nama pulaunya apa?

N: Sumatera!!! (Yaaa teruuss narik garis lagi)

N: koq bisa gitu? Ambu tuh sok tau!!! (Oh yeaaahh seperti biasa!!)

A: untuk daerah-daerah yang letaknya berdekatan, biasanya akan ada kemiripan atau kesamaan budaya… gak sama plek tapi… karena, biasany latar belakang sejarahnya sama… dan kondisi tanah dan lingkungannya juga mirip-mirip…

N: ohh gituu… ahh, ambu paling cuma sok tau ajaa… (terus dia keluar kamar dengan santuy!!)

(Gw gejeeeg jugaa niii bocaaahh!!!)

Demikianlaah, sekedar tumpahan dan turahan kemumetan emak yang harus menemani anak PJJ…

Sebenernya, kalo perkara materi, masih bisa dioper pada Mbah Google … tapi, perkara ngeyelnya bocah ini lhoo… 仁仁

Yaaa amplooppp… bikin hasrat mamak untuk makan itu naek-turun macem harga saham!!! Arrghhhh….

Sampaaiii jumpaaa lagiiiii …

STAY (in)SANE…!!!

Posted in Uncategorized

Memoar Pulang Kota, 1, Bis 157

Bakal jadi blog-post series dengan ritme sakumaha-uing … heuheuheu yaa harap maklum, begitulah adanya… bukan cuma moody, tapi sering lupa juga apa yang mau ditulis… oh iya, bukan cuma tanggal terbit yang entah kapan, tapi juga urutannya bakal tidak teratur…

Penulisan blog ini mungkin bisa diartikan sebagai coping-mechanism saya yang merasa “tercerabut” dari salah satu akar kehidupannya…

Rumah di Tangerang, yang ditempati sejak 1989 sudah laku terjual… bukan usaha yang mudah untuk Papa Mama ngejual rumah itu… alasan utamanya, kakek-nenek pengen menikmati masa tua di kampung halaman (kampungnya Papa sih tepatnya) … kehidupan di (penyokong) ibukota itu dirasa sudah cukup “mahal” bagi pensiunan tanpa uang pensiun… heuheuheuu… yah, lagipula Papa udah “booking” lahan untuk tidur abadi di tanah masa kecilnya itu… (Papa sih lahirnya di Jakarta, tapi dari piyik sampe lulus STM ya di kampungnya itu)

Ini dia suasana si bis yg dijadiin judul… bis jadul kalo kata si bocah… bis yang tiap digas bakal bunyi eblek eblek-eblek… belom lagi, keadaan bis yang tanpa AC di udara Jabotabek yang katanya tidak sehat, tapi lumayan terselamatkan kalo pas si bis gas-poll… angin sembribit mbablas masuk langsung dari jendela, gak pake malu-malu… macem kentut gitu lah, gak pake malu-malu, tapi cukup malu-maluin, soalnya kaca jendela juga bakal ngasih musik dari getarannya…

Bis ini penyelamat tiap mudik ke Tangerang, karena dia menghubungkan Pasar Senen dan Tangerang…

Bis ini pula yang udah stand-by jam setengah 5 pagi di Terminal Senen, biasanya kereta dari Jogja tiba di Senen itu antara jam 1-4 pagi, jadi sembari nunggu subuhan dan bis, biasanya jajan-jajan di Pasar Kue Subuh…

Dan, dari Tangerang ke Stasiun Senen dia selalu ada, ngetem aja di pintu tol karawaci…

Kalo lagi cuapek banget, berduaan sama ndori, itu biasa ambil 3 seat sekaligus… alasannya, 1 seat buat tas, jadi lebih bebas juga space untuk duduk… tau sendiri lah ya ukuran seat di bis kota begini tuh gak ramah buat bokong-jembar-kayak-semar…

Kenapa berani ambil 3 seat? Ongkosnya 5 rebu rupyah saja Kakaaak!!! Gak pake mahal, jangan ditawar… (berasa di tanah abang, yg juga bakal kurindukan PAKE BANGET!!!)

Bis ini dibilang bis setan, soalnya waktu tempuh normal (tanpa macet yg berarti), karawaci-senen itu cuma 45 menit… pernah cuma setengah jam lewat dikit, itu bis pertama yg jalan jam 5 kurang dari senen… luarr biasaa!!! Pokoknya berasa kayak sensasi naek kora-kora…

Aahhh… sarana transportasi umum yang kaya-rasa ini yang jelas merupakan privilege untuk orang-orang yang hidup di ibukota (sekarang) dan sekitarnya… sementara di daerah lain, ada angkutan yang masih beroperasi diatas jam 2 siang itu merupakan anugerah…. hiyeess sayaah curcol

Dan ongkos lima rebu rupyah di Jekardah Raya ini bukan sesuatu yang bisa dibilang mahal, walo harga transjakarta 3500 sih…

Haii kamuuu, Bis 157… baik-baik yaa kamuu… hasta la vista!!!

Posted in Uncategorized

Pindah tempat nyoblos… (andai dibayar sama KPU)

Helooooooowwwww…

Luaaaamaa ajah yaks cyint gak apdeit dimarih…

Aslinya yg ditaro di draft udeh banyak ajeh, tapiii mood nya ntah kemana pas disuruh beresin kerjaan… kebiasaan banget lah yaks…

Naah, lagi rame masalah pemilu inih anuh onoh, baiklaahh sebagai panjat sosial, karena kutak mampu panjat tebing, kita juga mbahas ajah masalah si pencoblosan ini…

Pemilu ini, secara gk langsung jadi pemilu ketiga kami (gw dan simas), untuk nyoblos di luar wilayah yang sesuai sama KTP. Yaa naseeebb nomaden amat yaakss. Ambil positifnya, brarti rumahnya banyak… Alhamdulillah

Pemilu pertama kali taun 2009 kayaknya sih gitu, TPS nya pindah ke KJRI cabang New York, untuk pileg milih dikirim ajah lewat pos, pas pilpres baru deh ke KJRI karena ngincer makanan, dan udah summer break simasnya, dan ngejar makanan heheheeheee

Pemilu taun 2014, domisili udah ke Kota Yogya, dengan alamat KTP di Tangerang. Klo ini ngurusnya sampe ke KPU Kota, bareng sama simas. Alurnya itu, kita ndaftar ke kelurahan, dapat pengantar untuk ke KPU, dari KPU dapet surat lagi untuk diserahkan ke petugas PPS di kelurahan… BHAIKLAAAHH… untung sudah jadi masa lalu…

Nah, untuk hal yg berkaitan sama postingan ini, simas gak terlibat seupil pun… All by myself!!! *nyanyik sambil mbengok 毋

Hal pertama yg dilakukan adalah, ngecek ada atau nggaknya nama kita di DPT, nanti di web nya itu bakal keliatan sampe ke TPS mana kita seharusnya nyoblos di domisili asal…

Berikut screenshot-an tentang terdaftarnya gw di TPS domisili asal… itu kliatan kan yaks nama web-nya. Lindungihakpilihmu website resmi dr KPU.

Tahap 1, screenshot hasil pencarian kamu. Ini bakal jadi bukti untuk pengurusan A5 di tempat yang baru.

Okray, maju ke tahap selanjutnya… karena gw rada gak percayaan yaks sama tulisan di website dan dunia nyata untuk hal birotrasicrazy di endonesah raya tertjinta… jadinya gw ngecek ke dua tempat sekaligus.

Pertama, nemuin PPS di Kelurahan. Untungnya jarak ke kelurahan gk sampe 2 km dari rumah. Oke, ktemu sm Mbak I. Terus pas sama Mbak I ditanya, kita udah terdaftar apa belum di DPT. Kita kasih liat deh itu hasil SS yg dr web. Dicatet deh.

Nah mbak I bilang, cuma butuh fotokopi KTP dan KK. Dan bisa diurus di PPS Kelurahan, gak harus ke KPU Kota/Kabupaten.

Baiklah, karena gw gk percayaan sama ucapan Mbak I. Dari kelurahan, gw terus cuss k KPU Kabupaten yg jaraknya hampir 15 km dari rumah. Terus gw bingung knapa koq abis isi bensin udh tekor lageeh.

Nah, ada tempelan beginian deh di pintu KPU…

Okre, untuk yg nomer 1 itu udah dibahas diatas yaa…

Nah, ketemu lagi sama petugas pemilihan di KPU. Terus dijelasin sama mbaknya itu, A5 bisa diurus di keluahan, kecamatan, ataupun langsung di KPU.

PALING LAMBAT TANGGAL 17 FEBRUARI yah Gaeess!!!

Eh iya, sama petugas KPU terus dikasih nomernya Mbak I dong sebagai PPS setempat, bwahahaahaha… disitu saya merasa durhaka sama Mbak I.

Karena kudu ada fotokopi katepe punya simas, jadinya proses ngurus coblosan berlanjut besokannya.

Besokannya, balik lagi ke kelurahan. Dengan bawa segala fotokopian, dan janjian ketemu Mbak I.

Alhamdulillah yaa.. ternyata ada Ketua PPS tingkat Kecamatan yg pas lg ada urusan di Kelurahan situ. Jadinya A5 bisa langsung ditandatangani dan distempel. HORRAAAYY!!!

Klo semisal gk ada itu Bapak yg kudu tandatangan, surat A5 nya ya belom jadi. Terus, ntarnya kita bakal di wasap sm PPS kapan suratnya jadi. Terus, kita tinggal ambil ke kelurahan lagi.

Eh iya, karena ini gw kan ceritanya pendatang ya. Masih buta sama geografis lingkungan sekitar, gw minta sama mbak I nanti dikasih tau ancer-ancer untuk ke TPS gimana. Karena, posisi TPS sendiri belom ditentukan mau dimana. PPS, Lurah/Kades, dan Kepala Dukuh masih harus rapat buat nentuin dimana letak si TPS nya.

Yosss… siap menuju coblosan 2019… nanti di TPS tinggal tunjukin deh A5 dari kelurahan.

Ayooo Nyoblooooss!!!!

Posted in Uncategorized

mbolang Semarang bersama Ndori, Part 3, Museum Lawang Sewu

P_20180411_102352
Tugu Muda, Semarang

suatu museum hits, yang kata orang harus banget kesini kalo ke Semarang… baiklah, karena sayah anaknya penurut… (hweeekkss cuiiihhh….!!!) sayah ngikutin aja apa kata orang…

dari Mesjid Agung Semarang, kembali ngorder ojol untuk cuss menuju Tugu Muda… eh katanya Lawang Sewu, koq Tugu Muda…

ya itu Tugu Muda ngejeglek di depan si Museum Lawang Sewu…

P_20180411_101614

Ini dia harga tiket Lawang Sewu, kayaknya ini museum paling mahal selama jalan-jalan di Semarang. Karena, di Mesjid Agung Jawa Tengah dan nantinya di Museum Ronggowarsito harganya gak sebegini mahalnya….

plaaakk…. !!! ditampar netijen jekardah … harga segitu dibilang mahal…

nengok dikit ke sisi sebelah kiri, dari loket tiket, ntar ada penampakan lokomotif tua… hitam gagah perkasa … P_20180411_102843

si ndori kan jadi tau kenapa disebutnya “KERETA API” … si loko tua ini masih punya ruang pembakaran batu bara…

seperti yang keliatan di plakat bagian tiket, udah liatan ya kalo museum ini dimiliki oleh PT. KAI, alias si perusahaan kereta api… udah kebayang lah isinya tentang sejarah dan perkembangan perkeretaapian di Indonesia tercinta…

biar dikata industri kereta api ada di Madiun, PT INKA, ataupun DAOP 1 itu ada di Jakarta, ternyataaaaa…. stasiun tertua itu ada di Semarang, sodara-sodara… salah satu efek dari Kota Semarang yang merupakan pelabuhan, maka moda transportasi lain juga kudu bagus, biar gak terjadi penumpukan bahan-bahan di pelabuhan… sedangkan si Museum Lawang Sewu sendiri itu berfungsi sebagai Kantor Jawatan Kereta Api pertama…

P_20180411_102715 P_20180411_103914

ehh inii knapaa si wotpres gk bisa ngelompokin foto-foto kayak biasaa….. HELEEEPPP!!!!!!!!!!!!!!!!

ada bagian indoor dan outdoor di museum ini. Bagian indoor utk nyimpen koleksi-koleksi, ada maket, ada surat menyurat jadoel, sampe ada tiket KRL yg jaman dulu masih berupa potongan kerdus tebal warna-warni… pada bagian koleksi yg ini, si ndori cuma bisa ketawa-ketawa doang… kenapa bentuknya kayak gitu, jelek banget sih, dan komen-komen ngenyek lainnya… nceenn yoo bocaaahh!!!!

P_20180411_105036P_20180411_104950

naahhh area outdoor biasanya untuk foto-foto dan istirahat kayak gini… heheheee, istirahat dulu sebelom lanjuut cuss ke TKP selanjutnyaaa….

perjuangan masih panjang, Jendral…!!! ini status sepatunya ndori masih belom jebol… pokoknya kita mubengin semarang sampe sepatunya si ndori ini jebol ambrol bwhahahaha

Posted in food, travel

Mbolang bersama Ndori, Mesjid Agung Semarang

holaa haloo…
ini kayakna bakalan ngebut post tentang Semarang… maksutnya biar utangnya mamak lunas, dan space di hape kosong hehehe… soalnya bisa ngebusak foto-foto hahaahahaa…

hari kedua,
pagi-pagi udah langsung check out dari hostel… karena list hari kedua ini PUWAANJAAAANG..
list hari kedua:

  1. Mesjid Agung Jawa Tengah
  2. Lawang Sewu
  3. Museum Ronggowarsito
  4. Sampokong
  5. Tahu Baxo bu Pudji

dan harus udah sampe Banyumanik sebelum jam 5 sore, karena bis terakhir dari Banyumanik ke Jogja itu sekitar jam 5 sore itu… Bis yg AC gitu.. merknya RAMAYANA atau apa ya 1 lagi, kami PP itu naek 2 merk bis yg AC itu lah… 40ribu per orang biayanya…

okay, karena kita nginepnya di penginapan yg mengere, udah jelaslah yaa tanpa sarapan… eh iya, sebelom lupa, dari hostel disediain anduk untuk yang nginep…
okre balik ke topik, cekot dari hotel sekitar jam 8an pagi… terus lanjut cari sarapan.. menu yang direkomendasikan untuk sarapan adalah MIE KOPYOK…

P_20180411_082602
mie kopyok Pak Dhuwur

ndori ngeliat menu beginian, terus dia hmmm hmmm… tp mamak dengan pandangan setajam silet mengisyaratkan harus makan… akhirnya dia pesen mie kopyok sendiri, tanpa tahu dan lontong… jadinya cuma mie sama krupuk puli dan kuahnya itu…

bisa dibilang si mie kopyok ini adalah sodara jauhnya Lontong Balap di Surabaya, perbedaan ada di jumlah toge bin kecambah yang tumplek di piringnya hehehe… klo lontong balap pake lento, klo yang ini pake krupuk puli itu….

oke, dari hostel ke mie kopyok ini naek Ojol.. 4 ribu rupyah aja… karena si hostel ini kan termasuk tengah kota, deket bwanget sama stasiun Semarang Poncol..

abis sarapan, kita langsung menuju ke Mesjid Agung, naek ojol lagi… karena berdasar jawaban twitter dari pengelola BRT, gk ada BRT yang langsung makplek turunnya deket2 si Mesjid Agung… kudu nyambung dan jalan kaki lumayaannn banget… dari tengah kota Semarang itu jaraknya kayakna kisaran 10 kiloan gitu…

 

panasnya yaakss Semarang.. itu fotonya sebelom jam 10 pagi udah kayak gituu… liatlah muka bete bocah di belakang… yang anti matahari hahahaa… itu payungnya mesjid agung bisa dibuka… macam mesjid di madinah…. P_20180411_092036ini foto dari menaranya mesjid, kita ngabur kesini menghindari sengatan matahari yg ctaarrr membahana… disediain teropong untuk ngeliat keadaan sekeliling Semarang, sampe ke pelabuhan juga keliatan… murah koq bayarnya.. 2 ribu apa yaa.. untuk naek ke menara sendiri, kayaknya masih dibawah 10 ribu rupiah…

ngapain aja sih di menara… selain teropong-teropongan itu… menara mesjid agung ini juga berupa museum tentang perkembangan Islam di Jawa Tengah…

 

banyaak toh koleksi nya… lumayan banget lhoo dengan harga tiket yang cuma segitu… bisa naek sampe menara, terus bisa ngeliat Semarang sampe juaauuuuuuuuhhhhhh…

sedikit tips:

1. klo mau kesini mending pagi sebelom jam 10 atau sore menjelang magrib, kayakna bakalan lebih adem yaaa…

2. si menaranya gak stroller friendly, karena saat turun dari satu k lantai lainnya, pake tangga biasa, akses elevator itu cuma untuk ke puncak menara, turun dari menara ke museum atau sekalian sampe bawah… pada saat kita selesai di puncak, petugas elevator bakal tanya, mau ke museum atau langsung pulang… gituuu

 

Posted in travel

Mbolang Bersama Ndori, Semarang 1

hola haloo…
saliim duluu… abis itu bebersih debu, lumut, kabang-kabang dan mengusir segala kecoak, semut, lipan dan lain-lain yang sudah bersarang di sini…

ini postingan telaatt bangett…. kejadiannya April kmaren, pas si ndori ada libur 2 hari, kelas 6 ada ujian apalah-apalah…

p_20180410_084533.jpg

kenapa simas gak ada, ini simas lagi ucul ntah kemana ya??!! sebagai penjunjung emangsisapi wanita, 2 wanita di rumah juga tentu sajah gak mau kalah hehehe…

perjalanan ini bisa dibilang dadakan sih, dan seperti biasa, ndori itu seneng-seneng bete pas dibilang mau ke Semarang… dia seneng karena belom pernah ke Semarang (simboknya pun terakhir ke Semarang pas masih esde, itupun cuma transitan sebelom ke Surabaya)… dan bete nya karena mamak ngasih taunya mendadak, 1 hari sebelom berangkat..

prinsip mamak kan pengen irit-iritan ajaa… sekalian ngasih hal yang baru untuk ndori, akhirnya mamak memutuskan untuk nginep di dormitory, hostel, atau hotel kapsul… karena jalan-jalan gak harus selalu nginep di hotel nyaman.

dapet si DS Layur Hostel ini dari traveloka, harga per orang per bed nya 38 ribu kalo gak salah… berdua sama ndori jadi gak sampe 80 rebu, PADAHAL… ada kelas hostel yg sekamar berdua cuma 75 ribu dengan kamar mandi dalem… tapi, ya gitu..
“there’s always a first time for everything”

hostelnya sendiri cukup nyaman koq, disediain loker.. karena ambil 2 bed.. otomatis dapetnya 2 loker juga, tapi karena cuma bawa 1 tas gemblok untuk berdua.. aslinya ya kepakenya cuma 1 loker… tapi dasar ndori ndeso ya, jatah lokernya dia itu buat diisi segala printilannya dia… bweheheheh..

dari Jogja ambil bis ke Semarang yang hampir jam 2, agak mepet sama jadwal terakhir bis trans Semarang.. yang katanya abis jam 5an dari Banyumanik ke arah kota… ternyata perjalanan lancar, sebelum setengah 5 bisa sampe di Banyumanik…

untuk menuju hostel ini, naek BRT (istilah trans nya Semarang) ke arah halte Layur… dari turun halte Layur, jalan kaki sekitar 400 meter sampe ke hostel. Nantinya, kita bakalan nemuin Mesjid Layur, salah satu mesjid tertua di Semarang, berupa cagar budaya juga… niatnya mau ke mesjid Layur ini abis magrib, biar rada adem… eh ternyata dkunci gitu deh … salahnya emak yg keasikan leyeh2 di kasur terus niatan jalan-jalan bergeser terus waktunya… akhirnya baru jalan setelah isya’.

rute jalan-jalan malem ini cuma ke area Kota Lama, karena area Simpang Lima itu isinya cuma jajanan kan yaa… daripada simbok berubah niat jadi makan mulu, jadinya kita tetep ke Simpang Lima… tapi cuma liat-liat doang geje…

bukan cuma di area Gereja Blenduk ternyata yang bisa enak foto-foto… kawasan di belakangnya itu juga banyak spot foto… bahkan gak terlalu keekspos, dan jelas gedung-gedungnya jelas keliatan tua nya… hehehehe

dan penutup untuk hari pertama adalaaahh….

P_20180410_201301
nasi goreng babat jembatan mberok

ketemu nasi goreng ini gak sengaja sih, karena dari Kota Lama, kita jalan ke arah keluar ngelewatin Jembatan Mberok gitu… dan ada tukang nasgor babat ini…. Ndori, jelas dia gk doyan karena terlalu berminyak dan ada babatnya, akhirnya dia minta nasgor biasa… pas udah sampe hostel baru deh ngegugel, kalo ternyata si nasgor ini termasuk salah satu titik rekomendasi untuk nasgor babat.

alhamdulillah… selesai perjalanan hari pertama… karena kita jalannya udah malem… semuanya naek ojol kesana-kesini…

Posted in Uncategorized

Kaderisasi Tukang Jajan Jalanan

Doohh… judulnya macam anak jalanan gituh yaks, padahal sih aslinya gak begitu … pengen nggaya pake judul “Raising a food-traveller”, tapi rasanya sungguh keminggris, sedangkan bahasan yang dibawah makanan asli Indonesia … pun rasanya, si kata RAISING ini macam hak prerogatif untuk kajian-kajian pola asuh anak bin parenting … gw ngomongin parenting yah jelas BHAAAYYYY …

Mana ada yaks tema parenting yang bakal gw bahas, sedangkan gw sendiri pelaku menyanyi merdu seriosa 10 oktaf sama si ndori, dan (hampir) tiap hari … si kata hampir disematkan biar kesannya masih ada hari tanpa nyanyian lah gituu

Gak tau sih awalnya kapan, tapi sejak masuk esde ini, si Ndori udh mulai mau makan kudapan yang keluar dari zona nyamannya dia … karena klo nggak, dia bakal denger nyanyian merdu emaknya… karena, jargon yang sering gw ucapin berulang-ulang untuk diri gw sendiri tuh

Cobain dulu…!!! Masalah suka dan gak suka itu belakangan…

Nah, pengen si ndori begitu juga… makanya dia sering nolak-nolak makanan yang njelehi penampakannya…

Sampe, awal April kmaren ngebolang berdua ndori ajah ke Semarang, naek bis dari Jombor … (udah lama pengen cerita, tapi belom nemu aja saatnya)

Sebagai bolang-baling senior (iyes emaknya ndori mah bolang baling alias kue bantal), pas ke Semarang itu tentu agenda utamanya jajan, selaen jalan-jalan yg murah meriah…

Menu khas Semarang yang jelas masuk dalam list itu, TAHU GIMBAL, karena gw fans berat segala bumbu ulekan kacang … jangankan pecel, gorengan macam pastel dan risol diguyur bumbu kacang encer ajah gw doyan …

Ndori awalnya nolak pas makan tahu gimbal, karena dia gak terlalu doyan bumbu kacang … dia lebih milih es teler, yg mana emang cucok beudd sama PUWANASNYA hawa di Semarang.

Sebagai emak yang tak kenal menyerah, iseng dong gw nyuapin si ndori gorengan gimbalnya aja pake bumbu kacang… gimbalnya garing kena bumbu kacang yg gk terlalu berat jadi enyaaaakkk…

Eh abis itu ndori nagih, hahahaa … akhirnya dia pesen sendiri, gimbalnya ajah 2 sama bumbu kacang … abis deh!!

Beberapa hari setelah balik Jogja, si ndori ngerajuk, minta tahu gimbal lagi… pengen tahu gimbal kayak yang di Semarang …

Pas ada hari yg si ndori pulang cepet, langsung meluncur ke daerah Pingit, demi berburu tahu gimbal. Dan pesenannya ndori cuma gimbal sama telor ceplok, diguyur bumbu kacang. Dan komennya ndori tentang tahu gimbal paling hit di Jogja …

Ambu, ini gimbalnya gak crispy kayak yang di Semarang… bumbu kacangnya kebanyakan kacangnya … ke Semarang lagi yuk Mbu, kirana mau makan tahu gimbal lagi Mbuu

ZONK!!! anak piyik umur 8 tahun udah bisa komen dan ngebandingin tekstur makanan…

apakah emaknya harus melakukan uji tekstur gimbal?? Abaikaaaannn

Sebulan berlalu sejak tragedi tahu gimbal di Pingit … sampe tadi malem, kebeneran simas ada kerjaan di area Alkid, njut emaknya ndori kepengen makan TAHU TEK yg di Jalan Bhayangkara, RS PKU Jogja ke arah utara sana lah …

Si emak udah siap dengan adanya penolakan dari ndori nantinya, udah nyiapin daftar menu yg lain sudah disiapkan … dan ndori rikwesnya ayam bakar yang enak…

Pesen tahu tek cuma 1, karena bakal makan sendiri, tapi sengaja gak minta dicabein karena takut si bocah minta telor dadarnya … hasilnya … TADAAAA…!!!

piring jadi hak milik, dan si emak kebagian tinggal beberapa potong lontong dan beberapa potong kentang serta toge …

K : Mbu, tahunya mana? Katanya tahu tek, tapi koq gk ada tahunya …

A : tahunya udah dkocok bareng telor dadarnya itu laahhh

K : oh brarti kirana makan tahunya?

A : yaaaeyalaaaahhh, ambu cuma dapet lontong sama toge

K : Mbu klo besok besok besok kesitu lagi, kirana mau telor tahunya aja ya sama bumbu

Hadeeeeh…… curiga bakal ada tanda-tanda sakau tahu tek begini ceritanya…

Alhamdulillah ya PROGRAM KADERISASI JAJAN MAKANAN JALANAN oleh Ambu terbukti BERHASIL sejauh ini … cuma kalo pas sakaunya ajah dia minta ini itu susah nyarinya… heuuu 返