Posted in Uncategorized

Aku Siap, Ayah (2)

Seminggu sudah aku kembali ke sini, ke padepokan ini, ke rumah ini, ke kamar hangat ini. Sempat kulupa apa tujuanku kembali, karena tidak akan ada lagi pelukan hangat dari Abah dan Ibu. Tapi, mereka juga yang membuatku kembali, karena padepokan ini mereka dirikan untuk menemaniku bertumbuh.

Namaku Sore Laksita. Abah dan Ibu memanggilku Rere, selain itu aku dikenal dengan nama Sita. Oh, tentu saja aku bukanlah anak kemarin sore, sudah 21 tahun usiaku. Aku seorang yatim piatu, kalau boleh kubilang seperti itu. Abah dan Ibu telah lebih dulu berpulang. Tak banyak kukenal saudara dari kedua orangtuaku, dan aku tak pernah bertanya. Cinta mereka untukku selalu berlimpah ruah, tak sanggup kuteguk seluruhnya namun aku selalu merasa haus.

Abah memegang tanganku kuat, di ujung nafasnya beliau mengatakan bahwa aku bukanlah anak kandungnya. Aku tak tahu harus menjawab apa, perkataannya membuatku oleng. Aku kehilangan makna hidup. Jika bukan Abah, lalu siapa? Dan Abah pun mengucap satu nama, yang bahkan belum pernah kudengar. Abbad Nabhan.

Abah dan Ibu meninggalkan sebuah kotak kayu, dan ditujukan kepada Abbad Nabhan. Bagaimana aku bisa menyerahkan kepada orang yang bahkan aku tidak tahu keberadaannya?

—————

Beratus purnama sudah kutinggalkan kota ini. Kota kecil penuh kenangan indah, tapi menyakitkan untuk kuingat.

Kukubur cintaku di kota ini. Kutanggalkan persahabatanku. Kubakar serpih kenangan yang ada. Kujual jiwaku agar tak ada lagi ikatan tersisa antara aku dan kota ini, Jogja.

Berita tentang meninggalnya sahabatku sampai ketika aku ingin kembali merajut ikatan yang terkoyak. Aku yang telah bersalah menggunting talinya, agar aku bisa terbang.

Wahai Sahabat, maafkan aku yang terlalu pengecut ini.

“Pak, Abah Ayub sudah meninggal beberapa bulan lalu.” Ucapan pihak penyelenggara pameran membuatku kelu.

“Abah Ayub punya padepokan seni yang cukup ramai dijadikan tempat latihan sekaligus kongkow para seniman. Mungkin ada satu dua teman Pak Abbad yang lain ikut mengisi di sana. Saya bisa antar Pak Abbad kesana kalau Bapak mau.” Lanjutnya.

“Terima kasih, tapi saya akan kesana sendiri. Tolong dicatatkan saja alamatnya. Sekalian saya mau melihat Jogja sekarang seperti apa.” Hanya itu yang mampu kuungkapkan.

————

Rumah dengan bata exposed, rooster terakota, pintu kayu berukir, serta pendopo beratap joglo di sisi samping bangunan utama menyambutku sore itu. Kulihat cukup banyak anak muda disana. Aku sadar umurku sudah tak lagi muda, tapi gairah muda mereka ternyata menular kepadaku.

“Selamat Sore, maaf Pak, apa Bapak ini Pak Abbad Nabhan? Pelukis yang sedang pameran di Pairotaman?” Seorang pemuda mendekati dan menjabat tanganku.

Ahhh, rupanya ada yang mengenaliku di sini. “Ya benar, saya Abbad.”

Terdengar gemuruh sorai dari belakang, dan kemudian mereka menyalamiku satu persatu. Entah apa yang mereka pikirkan ketika menyalamiku.

“Taa… Sitaa… Ada tamu agung datang, Ta!!!” Teriak pemuda berpotongan gondes ke arah jendela rumah induk. “Abbad Nabhan, lho Taa!!! Pelukis yang lagi pameran itu Taa!!!”

Rasanya aku tak perlu lagi memperkenalkan diri. Pemuda itu sudah bertindak sebagai corong identitasku. Kubersandar pada salah satu soko area joglo sembari memandang sekitar, hunian yang sangat nyaman. Sansiviera tertata rapi, angsana menjulang memayungi kendaraan yang parkir, sirih gading tampak malu-malu merambati area pagar.

Seorang gadis keluar dari bagian belakang rumah, langsung menuju pendopo. Dia berjalan mengiringi seorang perempuan paruh baya yang membawakan teh poci dan pisang goreng.

Muka ituuu…. Paras ituuu…. aku mengenalnyaaaaa….!!!!

——————-

Teman-temanku datang ke pendopo, mereka ingin berlatih seperti biasa.

“Kalian latihan sendiri aja ya. Maaf aku gak bisa nemenin. Aku masih capek, baru pulang dari kampus tadi. Persiapan untuk ke Singapura minggu depan.”

Kuucap maaf tidak bisa menemani seperti yang sudah-sudah. Pikiranku penat. Perjalanan ke Singapura hanya alasan. Toh, mereka sudah terbiasa di sini, pendopo ini rumah kedua mereka. Mbok emban pun sudah mengenal mereka dengan baik.

Kuhanya ingin terpejam, dan ketika membuka mata aku ingin mendapati kenyataan yang lain.

Aku yang memutuskannya, ya AKU!!! Seharusnya dia yang menderita, tapi kenapa kuikut merasakan perih. Dia yang bermain api, dia yang memilih untuk membakar hubungan ini. Maka, biarkanlah aku yang menyiram air, agar tidak ada lagi bara tersisa. Kuharus pastikan, bara itu harus benar-benar mati.

Air terasa segar untuk pengelana yang haus, tapi akan terasa perih ketika mengenai luka.

Jendela kamar kubiarkan terbuka agar angin sepoi mampu membiusku. Musik pengiring latihan tari merupakan lullaby untukku. Musik itu yang menyelimuti kenanganku bersama Ibu. Setiap kibasan sampur mengirimkan rinduku kepada Ibu. Perasaan hangat dalam dekapan Ibu terasa dekat, hingga kudengar teriakan temanku dari arah pendopo,

“Taaa… Sitaa… Ada tamu agung datang, Ta!!!”

Sontak kuterlempar dari mimpiku. Njenggirat, aku langsung berdiri dari kasur ketika mendengarnya. Kucoba pahami apa yang membuat jantungku menggenjot darah dengan cepatnya. Ya, karena nama itu, Abbad Nabhan.

Kurapikan bajuku, kubasuh mukaku, kupoleskan sedikit lip balm. Kumelangkah menuju dapur. Budhe Jirah ternyata sudah siap dengan teh poci, gula batu, dan pisang goreng hangat.

“Mbak Sita, ini tadi teman-temannya bilang ada tamu istimewa. Terus mereka minta budhe untuk bikin wedangan”

“Ya Budhe, ini Sita mau nemuin tamunya. Yang datang itu teman Abah dan Ibu.”

“Ini mau dibawa Mbak Sita atau budhe?”

Budhe Jirah menunjuk pada nampan yang penuh terisi. Aroma teh melati menguar, berpadu dengan uap manis pisang goreng.

“Klo Budhe yang bawain ke depan gak papa kan? Sita nemenin Budhe deh, biar Budhe gak digangguin temen-temenku itu….”

Aku mengelak. Aku membutuhkan budhe untuk menenangkanku, aku tak yakin aku kuat menyajikan minuman ke sosok itu.

“Halah Mbak Sita, Budhe udah biasa ketemu temen-temennya Mbak Sita koq yo… Hayo Mbak, Mbak Sita di belakang Budhe aja ya, biar gak ketumpahan teh panasnya.”

Terima kasih Budhe. Kupejamkan mata, kutarik nafas panjang, kupastikan setiap hirupan oksigen mampu menembus semua dinding alveoli-ku. Kubiarkan hembusan angin senja melembutkan degupan jantung yang tak beraturan.

Abah, Ibu, AKU SIAP!

Posted in Uncategorized

Ayah, Aku Datang (1)

Disclaimer: bakal apdet ntah kapan2 lagi, sebuah fan-fiction utk tulisan NdaKabhi. Aimisyuh Ndaa!!

———————-

Hai semua, namaku Anjani. Panggil saja Anji, sebagaimana Mommy, Kakek, Nenek, dan Om Angga memanggilku. Kenapa cuma Mommy, kmana Daddy? Dari kecil, aku selalu berdua sama Mommy, karena Daddy sudah di surga.

Masa kecilku, habis di Magelang, kota kecil di utara Jogja, bercuaca sejuk, dan memiliki julukan Kota Bunga. Hanya ada aku dan mommy. Hingga aku mengenal beberapa sahabat mommy, Om Angga, Om Semesta, dan Om Pradana. Sampai akhirnya, mommy memutuskan pindah untuk mendekati kakek nenek di Lampung.

Dan sekarang, yah, aku di Lampung, Tanjung Karang lebih tepatnya. Aku meninggalkan Magelang ketika usia TK B. Apakah selepas SD ini aku akan meninggalkan Tanjung Karang?

“Anji, mommy mau cerita suatu rahasia sama Anji”, ucap mommy tadi malam, sebelum aku tidur.

“Mom, but secret is a secret, right? Kata mommy, klo rahasia artinya gak boleh diceritakan ke orang lain.”

“Sayang, mommy pernah janji ke Anji, kalau mommy mau diantara Anji dan Mommy gak boleh ada rahasia, karena mommy cuma punya Anji.” Mommy mengambil napas panjang,

“Anji, tolong maafin mommy ya, selama ini mommy udah bohongin Anji. Anji masih inget Om Pradana? Yang pernah foto bareng sama kita, pernah nolongin mommy waktu di rumah sakit?”

“Yes, Mom. Kenapa Om Pradana?”

Mommy menatap mataku, kemudian mencium kepalaku, aku dipeluknya erat,

“Anji, Om Pradana itu ayahnya Anji. Maafin Mommy ya, Nak. Mommy baru bisa kasih tau sekarang. Anji masih punya ayah, sama kayak anak-anak lain.”

Mommy mengambil lembaran akte kelahiranku, dan disana tertulis nama ayahku adalah Pradana Danubroto. Mommy terus memelukku, dan mommy menangis.

“Mom, Om Pradana tau klo Anji ini anaknya?”

“Om Pradana tau. Mommy sering kirim kabar tentang Anji ke Om Pradana. Maafin mommy ya Anji” mommy terus menangis. Kuhapus air mata ibuku tersayang, kutatap matanya, mommy harus tau I’m okay.

“Mom, boleh Anji ngomong langsung sama Om Pradana? Mommy bisa tolong telepon Om Pradana untuk Anji?”

——————-

Hampir jam 9 malam, berkas pajak untuk Teratai Batik cabang Jogja sudah kuperiksa ulang, fyuuhhh ternyata urusan pajak usaha ini sangat rumit. Tidak heran, Bapak sampai punya beberapa orang kepercayaan sekaligus untuk mengurusi bisnisnya di Solo. Sepanjang yang mampu kuingat, Bapak tidak pernah membawa pulang setumpuk faktur pajak ke rumah.

Apakah mungkin itu sebabnya, dahulu Bapak tidak langsung setuju ketika aku ingin membuka cabang di Jogja. Aku akan selalu dianggap anak kecil dan tidak mampu oleh Bapak dan Ibu. Yah, walau memang alasan utamaku saat itu sangat menjijikan. Aahhh, sudah 6 tahun berlalu.

Inge calling

Kulihat dengan cermat nama di layar. Inge, mantan istriku, menelpon malam-malam begini, tidak biasanya. Selalu aku yang menelponnya lebih dahulu, dan dia akan menjawabku acuh. Dia lebih suka komunikasi dengan WA, sebatas teks.

“Hallo, Om Pradana…”

Terkejut!! Itu Anji, anakku Anji…

“Hai , Anji…” kutak mampu berkata-kata lebih lanjut, aku memutuskan bersandar di atas dipan, di sebelah kolam renang. Nafasku berpacu cepat, yaaa kuakui aku gugup!!

Tiada kata di antara kami, kami hanya saling memandang layar HP.

“Halo, Om … Halo… Om Pradana udah mau tidur?”

“Hai Anji, nggak … nggak koq.. Anji gak ganggu…”

Damned shit!!! Jaka sembung bawa golok, gak nyambung goblok!! Bukan ituuu yang Anji tanya… wahai otak dan lidah, tolong kalian bekerjasamalah dengan baik.

“Oh, Om lagi sibuk ya? Ya oke, Anji tutup aja ya telponnya.”

“Anjiii… Anjii… tunggu, Om gak lagi sibuk. Om lagi ngelamun di pinggir kolam renang. Anji suka renang kan?”

Terima kasih Inge, selama ini kamu selalu mengirimiku gambar Anji dan aktifitasnya. Aku bisa tenang sejenak, mengarahkan kamera ke arah kolam renang. Aku tidak mau Anji melihat ayahnya gagap, ehh ayahnya?? Aku sendiri tak tau apakah Anji mengetahui kebenaran itu.

“Wah Om, kolam renangnya cantik. Ada pantulan bulan di air kolam. Om Pradana lagi liburan ya?”

“Nggak Anji, Om lagi ada di rumah. Sendirian aja kayak hari-hari biasa.”

“Oke,Om. Om, udah dulu ya teleponnya. Nanti kapan-kapan Anji telpon lagi ya… Atau Om yang telepon mommy yaa… dadah Om, selamat malam”

“Malam Anji, bobok yang nyenyak ya. Salam untuk mommy.”

Anji, terima kasih untuk malam ini. Aku tak sanggup membayangkan, apakah kau siap menerimaku sebagai ayahmu, bukan sekadar teman dari ibumu. Anji, apakah kau akan memanggilku ayah?

Inge, terima kasih untuk malam ini.

Kalimat singkat kukirimkan kepada Inge. Tak kuharap balasan, seperti yang sudah-sudah. Aku sadar, luka yang telah kugoreskan teramat dalam.

Aku sudah menceritakan semuanya. Anji yang memintaku untuk menelponmu tadi.

Malam ini terasa panjang, aku tak mampu lagi untuk berfikir. Apakah aku siap untuk menjadi ayah?

————-

Posted in life, travel

Bye 2020, Tahun Dadas Bundas

Disclaimer: Bundas di sini bukan bentuk jamak dari BUNDA yaaa, macem di sesuatu forum kui kae… Hai, Bundas …

Karena, penulis gak punya panggilan Bunda, walopun dia BUNDER

Taun 2020 ini adalah sebuah taun yg sungguh IHWAWWW LUAR BIASA ASELOLE SYUDUDU DAMDAM ASIK ASIK JOSS!!! pokoknya taun yang bener-bener bikin SPEECHLESS!!!! Gk bisa diungkapkan dengan mudah. Mungkin kita, aku dan kamu, yang ngebaca ini ngerasain hal yang sama…

Taun yang bikin semua rencana porak-poranda, taun yang bikin dunia kebolak-balik macem bartender lagi ngeracik cocktail… taun yang gak ada dalam perencanaan ataupun resolusi taun baru manusia pada umumnya…

Sampe di hari terakhir taun 2020, kita beneran gak ada yang tau perjalanan roller coaster ini kapan akan berakhir, dimana ujungnya, kapan bel-nya bunyi, sehingga kita sebagai penumpang bisa turun dengan lega dan lapang setelah puas bengak-bengok pas naek wahana… kita cuma dikasih aba-aba untuk selalu waspada untuk belokan tajam dan semakin menukik …

Banyak orang kehilangan keluarga, sahabat, tetangga, atau bahkan orang lain yang sekedar lewat di kehidupan … Kehilangan pekerjaan, kehilangan tempat untuk bersandar… terlalu banyak kehilangan, sampe tiba waktunya di ujung 2020 …

Jargon yang paling terkenal di taun ini,

2020 itu cuma terdiri dari 3 bulan, Januari, Februari, dan PANDEMI

Hwayoo… pengen rasanya ngelupain hal-hal yg bikin syediihh di taun ini, tapi ya luka itu akan terus ada kan yaaa…

Daripada mikirin luka, aku milih untuk berterimakasih untuk apa yang udah aku syukuri di taun 2020 ini

  • Merasakan dapur ngebul kembali, ini bener-bener berasa banget… yang biasanya hampir selalu jajan makan siang tiap abis jemput sekolah, sekarang otomatis kompor nyala terus untuk keperluan makan 3 kali sehari di rumah. Pas awal pandemi, si ndori bisa dijadiin asisten dapur, karena dia masih penuh semangat untuk menjalani #dirumahaja … kalo sekarang??? JELEH!!! 打打
  • Ngerasa punya tabungan, faktor yang ternyata signifikan utk penyumbang saldo terbesar adalah MUDIK plus mblakrak nglencer wisata kuliner dan syalalalili. Adanya si koronces ini, otomatis gk ada agenda mudik ngulon atanipun ngetan. Sampe bludreg aja di Kota Gudeg. Walo buntutnya si saldo yaaa tetep bubaarr jalaaannn 不不
  • Aktivasi internet banking 五五 makasih lhoo pandemi… mungkin klo gk gara2 si koronces ini, gw bakalan tetep jalur konvensional yang klo mau transfer2 ngacir ke ATM
  • Punya duit jajan 不不 ya ini hasil dari dapur ngebul tadi, karena pengennya klo masak sekalian banyak sekalian capek, jadinya nawarin ke temen plus maksa untuk sekalian beli masakan makasih untuk Dedek Ici yg jadi penghubung diantara tante-tante kelaparan, wooyy Dek Ici… kapan balik Jogja h
  • Duit jajan lagi dari hasil jualan bluder tipis-tipis geje, soalnya klo diitung-itung, profit jualan bluder ini gak sebanding bahkan nombok biaya jajan dan upahnya si ndori untuk itu berterimakasih kepada Ritra sebagai pemasok bluder dari Madiun dan Mama Z sebagai partner ambil bluder tengah malem di Lempuyangan. Tapi, hepi gitu deee 予予
  • Dalam 1 tahun ini gak jajan GINCU!!! Suatu pencapaian tanpa rencana ya, karena sadar diri aja, itu gincu mo dipake kemana dan kapan, ketutupan masker pula kan yaaa
  • Si Kucrit akhirnya bisa nyampe di ujung jari kakinya Gunung Fuji. Klo dulu kakaknya cuma bisa sampe bawahnya kaki Gunung Manglayang, sekarang si kucrit bisa dapet pemandangan puncak Gunung Fuji tiap buka jendela kamarnya. Ini harusnya si kucrit bikin tulisan sendiri tentang rollercoaster-nya menuju kampung Fuji.
  • Papa Mama SEHAATT SEMUAAAA ALHAMDULILLAH!!! Papa itu salah satu yang bikin deg-degan perkara koronces ini. Papa punya beberapa komorbid dan statusnya lansia pula. Alhamdulillah, akhir taun ini si papa malah punya maenan baru… sepasang ayam kate
  • Hadeehh, sepasang kakek-nenek yang jauh dari anak cucu boncengan naek motor ke pasar dan pulangnya bawa sepasang ayam kate

Si Ndori, ini dia biang dadas bundasnya!!! Taun 2020 ini, dia ntah sudah berapa banyak menggoreskan luka bin lecet di badannya … beberapa legging terpaksa pensiun dini karena udah sobek disana-sini …

Ada 1 hal yang berhasil dia kalahkan di taun ini… DIA BERANI JATUH … selama ini selalu takut dan ragu untuk menjatuhkan badannya sendiri… dan lihatlah sekarang… dia bangga udah membuat celananya kembali sobek di sisi kiri dan kanan sekaligus

tinggal emaknya puyeng aja ngegantiin celana yang mendadak turun kasta 返返 babay tabungan!!賅

SELAMAT TAHUN BARU 2021

Semua yang terbaik untuk kita di tahun yang baru. Semangat yang perlu dikipas lagi, jangan cuma semangat ngipasin jagung bakar aja pas pergantian tahun.

Satu hal yang perlu diinget nih, kalo kita bersama-sama, perjalanan emang bakal lebih luamaaa… tapi, kita bakal bisa lebih jauh lagi untuk melangkah. Kita bakal punya ekstra tangan untuk mijitin, bahu untuk mindahin beban, kuping untuk dijewer dan dengerin bacotan, bahan ghibah tiada habisnya, serta lambe lamis yang tak henti ngecepres supaya ramai rasanya kayak nano-nano.

Sungguh motivasi yang luar biasa bukan??!!!

Jadi, mari kita Bro n Bra, untuk sama-sama menguatkan mental, saling pegangan tangan walo social distancing untuk tahun 2021 ini.

Kita bisa nembus ini semua bareng-bareng koq… YUKSS!!! CUSSS!!!

Pintu teater 2021 telah dibuka, kepada para pembaca yang telah memiliki tekad dipersilakan memasuki petualangan dan jangan lupa menggunakan sabuk pengaman

Manusia haluu akibat gak nonton bioskop selama setahun