Posted in Uncategorized

Ayah, Aku Datang (1)

Disclaimer: bakal apdet ntah kapan2 lagi, sebuah fan-fiction utk tulisan NdaKabhi. Aimisyuh Ndaa!!

———————-

Hai semua, namaku Anjani. Panggil saja Anji, sebagaimana Mommy, Kakek, Nenek, dan Om Angga memanggilku. Kenapa cuma Mommy, kmana Daddy? Dari kecil, aku selalu berdua sama Mommy, karena Daddy sudah di surga.

Masa kecilku, habis di Magelang, kota kecil di utara Jogja, bercuaca sejuk, dan memiliki julukan Kota Bunga. Hanya ada aku dan mommy. Hingga aku mengenal beberapa sahabat mommy, Om Angga, Om Semesta, dan Om Pradana. Sampai akhirnya, mommy memutuskan pindah untuk mendekati kakek nenek di Lampung.

Dan sekarang, yah, aku di Lampung, Tanjung Karang lebih tepatnya. Aku meninggalkan Magelang ketika usia TK B. Apakah selepas SD ini aku akan meninggalkan Tanjung Karang?

“Anji, mommy mau cerita suatu rahasia sama Anji”, ucap mommy tadi malam, sebelum aku tidur.

“Mom, but secret is a secret, right? Kata mommy, klo rahasia artinya gak boleh diceritakan ke orang lain.”

“Sayang, mommy pernah janji ke Anji, kalau mommy mau diantara Anji dan Mommy gak boleh ada rahasia, karena mommy cuma punya Anji.” Mommy mengambil napas panjang,

“Anji, tolong maafin mommy ya, selama ini mommy udah bohongin Anji. Anji masih inget Om Pradana? Yang pernah foto bareng sama kita, pernah nolongin mommy waktu di rumah sakit?”

“Yes, Mom. Kenapa Om Pradana?”

Mommy menatap mataku, kemudian mencium kepalaku, aku dipeluknya erat,

“Anji, Om Pradana itu ayahnya Anji. Maafin Mommy ya, Nak. Mommy baru bisa kasih tau sekarang. Anji masih punya ayah, sama kayak anak-anak lain.”

Mommy mengambil lembaran akte kelahiranku, dan disana tertulis nama ayahku adalah Pradana Danubroto. Mommy terus memelukku, dan mommy menangis.

“Mom, Om Pradana tau klo Anji ini anaknya?”

“Om Pradana tau. Mommy sering kirim kabar tentang Anji ke Om Pradana. Maafin mommy ya Anji” mommy terus menangis. Kuhapus air mata ibuku tersayang, kutatap matanya, mommy harus tau I’m okay.

“Mom, boleh Anji ngomong langsung sama Om Pradana? Mommy bisa tolong telepon Om Pradana untuk Anji?”

——————-

Hampir jam 9 malam, berkas pajak untuk Teratai Batik cabang Jogja sudah kuperiksa ulang, fyuuhhh ternyata urusan pajak usaha ini sangat rumit. Tidak heran, Bapak sampai punya beberapa orang kepercayaan sekaligus untuk mengurusi bisnisnya di Solo. Sepanjang yang mampu kuingat, Bapak tidak pernah membawa pulang setumpuk faktur pajak ke rumah.

Apakah mungkin itu sebabnya, dahulu Bapak tidak langsung setuju ketika aku ingin membuka cabang di Jogja. Aku akan selalu dianggap anak kecil dan tidak mampu oleh Bapak dan Ibu. Yah, walau memang alasan utamaku saat itu sangat menjijikan. Aahhh, sudah 6 tahun berlalu.

Inge calling

Kulihat dengan cermat nama di layar. Inge, mantan istriku, menelpon malam-malam begini, tidak biasanya. Selalu aku yang menelponnya lebih dahulu, dan dia akan menjawabku acuh. Dia lebih suka komunikasi dengan WA, sebatas teks.

“Hallo, Om Pradana…”

Terkejut!! Itu Anji, anakku Anji…

“Hai , Anji…” kutak mampu berkata-kata lebih lanjut, aku memutuskan bersandar di atas dipan, di sebelah kolam renang. Nafasku berpacu cepat, yaaa kuakui aku gugup!!

Tiada kata di antara kami, kami hanya saling memandang layar HP.

“Halo, Om … Halo… Om Pradana udah mau tidur?”

“Hai Anji, nggak … nggak koq.. Anji gak ganggu…”

Damned shit!!! Jaka sembung bawa golok, gak nyambung goblok!! Bukan ituuu yang Anji tanya… wahai otak dan lidah, tolong kalian bekerjasamalah dengan baik.

“Oh, Om lagi sibuk ya? Ya oke, Anji tutup aja ya telponnya.”

“Anjiii… Anjii… tunggu, Om gak lagi sibuk. Om lagi ngelamun di pinggir kolam renang. Anji suka renang kan?”

Terima kasih Inge, selama ini kamu selalu mengirimiku gambar Anji dan aktifitasnya. Aku bisa tenang sejenak, mengarahkan kamera ke arah kolam renang. Aku tidak mau Anji melihat ayahnya gagap, ehh ayahnya?? Aku sendiri tak tau apakah Anji mengetahui kebenaran itu.

“Wah Om, kolam renangnya cantik. Ada pantulan bulan di air kolam. Om Pradana lagi liburan ya?”

“Nggak Anji, Om lagi ada di rumah. Sendirian aja kayak hari-hari biasa.”

“Oke,Om. Om, udah dulu ya teleponnya. Nanti kapan-kapan Anji telpon lagi ya… Atau Om yang telepon mommy yaa… dadah Om, selamat malam”

“Malam Anji, bobok yang nyenyak ya. Salam untuk mommy.”

Anji, terima kasih untuk malam ini. Aku tak sanggup membayangkan, apakah kau siap menerimaku sebagai ayahmu, bukan sekadar teman dari ibumu. Anji, apakah kau akan memanggilku ayah?

Inge, terima kasih untuk malam ini.

Kalimat singkat kukirimkan kepada Inge. Tak kuharap balasan, seperti yang sudah-sudah. Aku sadar, luka yang telah kugoreskan teramat dalam.

Aku sudah menceritakan semuanya. Anji yang memintaku untuk menelponmu tadi.

Malam ini terasa panjang, aku tak mampu lagi untuk berfikir. Apakah aku siap untuk menjadi ayah?

————-