Posted in Uncategorized

Aku Siap, Ayah (2)

Seminggu sudah aku kembali ke sini, ke padepokan ini, ke rumah ini, ke kamar hangat ini. Sempat kulupa apa tujuanku kembali, karena tidak akan ada lagi pelukan hangat dari Abah dan Ibu. Tapi, mereka juga yang membuatku kembali, karena padepokan ini mereka dirikan untuk menemaniku bertumbuh.

Namaku Sore Laksita. Abah dan Ibu memanggilku Rere, selain itu aku dikenal dengan nama Sita. Oh, tentu saja aku bukanlah anak kemarin sore, sudah 21 tahun usiaku. Aku seorang yatim piatu, kalau boleh kubilang seperti itu. Abah dan Ibu telah lebih dulu berpulang. Tak banyak kukenal saudara dari kedua orangtuaku, dan aku tak pernah bertanya. Cinta mereka untukku selalu berlimpah ruah, tak sanggup kuteguk seluruhnya namun aku selalu merasa haus.

Abah memegang tanganku kuat, di ujung nafasnya beliau mengatakan bahwa aku bukanlah anak kandungnya. Aku tak tahu harus menjawab apa, perkataannya membuatku oleng. Aku kehilangan makna hidup. Jika bukan Abah, lalu siapa? Dan Abah pun mengucap satu nama, yang bahkan belum pernah kudengar. Abbad Nabhan.

Abah dan Ibu meninggalkan sebuah kotak kayu, dan ditujukan kepada Abbad Nabhan. Bagaimana aku bisa menyerahkan kepada orang yang bahkan aku tidak tahu keberadaannya?

—————

Beratus purnama sudah kutinggalkan kota ini. Kota kecil penuh kenangan indah, tapi menyakitkan untuk kuingat.

Kukubur cintaku di kota ini. Kutanggalkan persahabatanku. Kubakar serpih kenangan yang ada. Kujual jiwaku agar tak ada lagi ikatan tersisa antara aku dan kota ini, Jogja.

Berita tentang meninggalnya sahabatku sampai ketika aku ingin kembali merajut ikatan yang terkoyak. Aku yang telah bersalah menggunting talinya, agar aku bisa terbang.

Wahai Sahabat, maafkan aku yang terlalu pengecut ini.

“Pak, Abah Ayub sudah meninggal beberapa bulan lalu.” Ucapan pihak penyelenggara pameran membuatku kelu.

“Abah Ayub punya padepokan seni yang cukup ramai dijadikan tempat latihan sekaligus kongkow para seniman. Mungkin ada satu dua teman Pak Abbad yang lain ikut mengisi di sana. Saya bisa antar Pak Abbad kesana kalau Bapak mau.” Lanjutnya.

“Terima kasih, tapi saya akan kesana sendiri. Tolong dicatatkan saja alamatnya. Sekalian saya mau melihat Jogja sekarang seperti apa.” Hanya itu yang mampu kuungkapkan.

————

Rumah dengan bata exposed, rooster terakota, pintu kayu berukir, serta pendopo beratap joglo di sisi samping bangunan utama menyambutku sore itu. Kulihat cukup banyak anak muda disana. Aku sadar umurku sudah tak lagi muda, tapi gairah muda mereka ternyata menular kepadaku.

“Selamat Sore, maaf Pak, apa Bapak ini Pak Abbad Nabhan? Pelukis yang sedang pameran di Pairotaman?” Seorang pemuda mendekati dan menjabat tanganku.

Ahhh, rupanya ada yang mengenaliku di sini. “Ya benar, saya Abbad.”

Terdengar gemuruh sorai dari belakang, dan kemudian mereka menyalamiku satu persatu. Entah apa yang mereka pikirkan ketika menyalamiku.

“Taa… Sitaa… Ada tamu agung datang, Ta!!!” Teriak pemuda berpotongan gondes ke arah jendela rumah induk. “Abbad Nabhan, lho Taa!!! Pelukis yang lagi pameran itu Taa!!!”

Rasanya aku tak perlu lagi memperkenalkan diri. Pemuda itu sudah bertindak sebagai corong identitasku. Kubersandar pada salah satu soko area joglo sembari memandang sekitar, hunian yang sangat nyaman. Sansiviera tertata rapi, angsana menjulang memayungi kendaraan yang parkir, sirih gading tampak malu-malu merambati area pagar.

Seorang gadis keluar dari bagian belakang rumah, langsung menuju pendopo. Dia berjalan mengiringi seorang perempuan paruh baya yang membawakan teh poci dan pisang goreng.

Muka ituuu…. Paras ituuu…. aku mengenalnyaaaaa….!!!!

——————-

Teman-temanku datang ke pendopo, mereka ingin berlatih seperti biasa.

“Kalian latihan sendiri aja ya. Maaf aku gak bisa nemenin. Aku masih capek, baru pulang dari kampus tadi. Persiapan untuk ke Singapura minggu depan.”

Kuucap maaf tidak bisa menemani seperti yang sudah-sudah. Pikiranku penat. Perjalanan ke Singapura hanya alasan. Toh, mereka sudah terbiasa di sini, pendopo ini rumah kedua mereka. Mbok emban pun sudah mengenal mereka dengan baik.

Kuhanya ingin terpejam, dan ketika membuka mata aku ingin mendapati kenyataan yang lain.

Aku yang memutuskannya, ya AKU!!! Seharusnya dia yang menderita, tapi kenapa kuikut merasakan perih. Dia yang bermain api, dia yang memilih untuk membakar hubungan ini. Maka, biarkanlah aku yang menyiram air, agar tidak ada lagi bara tersisa. Kuharus pastikan, bara itu harus benar-benar mati.

Air terasa segar untuk pengelana yang haus, tapi akan terasa perih ketika mengenai luka.

Jendela kamar kubiarkan terbuka agar angin sepoi mampu membiusku. Musik pengiring latihan tari merupakan lullaby untukku. Musik itu yang menyelimuti kenanganku bersama Ibu. Setiap kibasan sampur mengirimkan rinduku kepada Ibu. Perasaan hangat dalam dekapan Ibu terasa dekat, hingga kudengar teriakan temanku dari arah pendopo,

“Taaa… Sitaa… Ada tamu agung datang, Ta!!!”

Sontak kuterlempar dari mimpiku. Njenggirat, aku langsung berdiri dari kasur ketika mendengarnya. Kucoba pahami apa yang membuat jantungku menggenjot darah dengan cepatnya. Ya, karena nama itu, Abbad Nabhan.

Kurapikan bajuku, kubasuh mukaku, kupoleskan sedikit lip balm. Kumelangkah menuju dapur. Budhe Jirah ternyata sudah siap dengan teh poci, gula batu, dan pisang goreng hangat.

“Mbak Sita, ini tadi teman-temannya bilang ada tamu istimewa. Terus mereka minta budhe untuk bikin wedangan”

“Ya Budhe, ini Sita mau nemuin tamunya. Yang datang itu teman Abah dan Ibu.”

“Ini mau dibawa Mbak Sita atau budhe?”

Budhe Jirah menunjuk pada nampan yang penuh terisi. Aroma teh melati menguar, berpadu dengan uap manis pisang goreng.

“Klo Budhe yang bawain ke depan gak papa kan? Sita nemenin Budhe deh, biar Budhe gak digangguin temen-temenku itu….”

Aku mengelak. Aku membutuhkan budhe untuk menenangkanku, aku tak yakin aku kuat menyajikan minuman ke sosok itu.

“Halah Mbak Sita, Budhe udah biasa ketemu temen-temennya Mbak Sita koq yo… Hayo Mbak, Mbak Sita di belakang Budhe aja ya, biar gak ketumpahan teh panasnya.”

Terima kasih Budhe. Kupejamkan mata, kutarik nafas panjang, kupastikan setiap hirupan oksigen mampu menembus semua dinding alveoli-ku. Kubiarkan hembusan angin senja melembutkan degupan jantung yang tak beraturan.

Abah, Ibu, AKU SIAP!

Posted in Uncategorized

Ayah, Aku Datang (1)

Disclaimer: bakal apdet ntah kapan2 lagi, sebuah fan-fiction utk tulisan NdaKabhi. Aimisyuh Ndaa!!

———————-

Hai semua, namaku Anjani. Panggil saja Anji, sebagaimana Mommy, Kakek, Nenek, dan Om Angga memanggilku. Kenapa cuma Mommy, kmana Daddy? Dari kecil, aku selalu berdua sama Mommy, karena Daddy sudah di surga.

Masa kecilku, habis di Magelang, kota kecil di utara Jogja, bercuaca sejuk, dan memiliki julukan Kota Bunga. Hanya ada aku dan mommy. Hingga aku mengenal beberapa sahabat mommy, Om Angga, Om Semesta, dan Om Pradana. Sampai akhirnya, mommy memutuskan pindah untuk mendekati kakek nenek di Lampung.

Dan sekarang, yah, aku di Lampung, Tanjung Karang lebih tepatnya. Aku meninggalkan Magelang ketika usia TK B. Apakah selepas SD ini aku akan meninggalkan Tanjung Karang?

“Anji, mommy mau cerita suatu rahasia sama Anji”, ucap mommy tadi malam, sebelum aku tidur.

“Mom, but secret is a secret, right? Kata mommy, klo rahasia artinya gak boleh diceritakan ke orang lain.”

“Sayang, mommy pernah janji ke Anji, kalau mommy mau diantara Anji dan Mommy gak boleh ada rahasia, karena mommy cuma punya Anji.” Mommy mengambil napas panjang,

“Anji, tolong maafin mommy ya, selama ini mommy udah bohongin Anji. Anji masih inget Om Pradana? Yang pernah foto bareng sama kita, pernah nolongin mommy waktu di rumah sakit?”

“Yes, Mom. Kenapa Om Pradana?”

Mommy menatap mataku, kemudian mencium kepalaku, aku dipeluknya erat,

“Anji, Om Pradana itu ayahnya Anji. Maafin Mommy ya, Nak. Mommy baru bisa kasih tau sekarang. Anji masih punya ayah, sama kayak anak-anak lain.”

Mommy mengambil lembaran akte kelahiranku, dan disana tertulis nama ayahku adalah Pradana Danubroto. Mommy terus memelukku, dan mommy menangis.

“Mom, Om Pradana tau klo Anji ini anaknya?”

“Om Pradana tau. Mommy sering kirim kabar tentang Anji ke Om Pradana. Maafin mommy ya Anji” mommy terus menangis. Kuhapus air mata ibuku tersayang, kutatap matanya, mommy harus tau I’m okay.

“Mom, boleh Anji ngomong langsung sama Om Pradana? Mommy bisa tolong telepon Om Pradana untuk Anji?”

——————-

Hampir jam 9 malam, berkas pajak untuk Teratai Batik cabang Jogja sudah kuperiksa ulang, fyuuhhh ternyata urusan pajak usaha ini sangat rumit. Tidak heran, Bapak sampai punya beberapa orang kepercayaan sekaligus untuk mengurusi bisnisnya di Solo. Sepanjang yang mampu kuingat, Bapak tidak pernah membawa pulang setumpuk faktur pajak ke rumah.

Apakah mungkin itu sebabnya, dahulu Bapak tidak langsung setuju ketika aku ingin membuka cabang di Jogja. Aku akan selalu dianggap anak kecil dan tidak mampu oleh Bapak dan Ibu. Yah, walau memang alasan utamaku saat itu sangat menjijikan. Aahhh, sudah 6 tahun berlalu.

Inge calling

Kulihat dengan cermat nama di layar. Inge, mantan istriku, menelpon malam-malam begini, tidak biasanya. Selalu aku yang menelponnya lebih dahulu, dan dia akan menjawabku acuh. Dia lebih suka komunikasi dengan WA, sebatas teks.

“Hallo, Om Pradana…”

Terkejut!! Itu Anji, anakku Anji…

“Hai , Anji…” kutak mampu berkata-kata lebih lanjut, aku memutuskan bersandar di atas dipan, di sebelah kolam renang. Nafasku berpacu cepat, yaaa kuakui aku gugup!!

Tiada kata di antara kami, kami hanya saling memandang layar HP.

“Halo, Om … Halo… Om Pradana udah mau tidur?”

“Hai Anji, nggak … nggak koq.. Anji gak ganggu…”

Damned shit!!! Jaka sembung bawa golok, gak nyambung goblok!! Bukan ituuu yang Anji tanya… wahai otak dan lidah, tolong kalian bekerjasamalah dengan baik.

“Oh, Om lagi sibuk ya? Ya oke, Anji tutup aja ya telponnya.”

“Anjiii… Anjii… tunggu, Om gak lagi sibuk. Om lagi ngelamun di pinggir kolam renang. Anji suka renang kan?”

Terima kasih Inge, selama ini kamu selalu mengirimiku gambar Anji dan aktifitasnya. Aku bisa tenang sejenak, mengarahkan kamera ke arah kolam renang. Aku tidak mau Anji melihat ayahnya gagap, ehh ayahnya?? Aku sendiri tak tau apakah Anji mengetahui kebenaran itu.

“Wah Om, kolam renangnya cantik. Ada pantulan bulan di air kolam. Om Pradana lagi liburan ya?”

“Nggak Anji, Om lagi ada di rumah. Sendirian aja kayak hari-hari biasa.”

“Oke,Om. Om, udah dulu ya teleponnya. Nanti kapan-kapan Anji telpon lagi ya… Atau Om yang telepon mommy yaa… dadah Om, selamat malam”

“Malam Anji, bobok yang nyenyak ya. Salam untuk mommy.”

Anji, terima kasih untuk malam ini. Aku tak sanggup membayangkan, apakah kau siap menerimaku sebagai ayahmu, bukan sekadar teman dari ibumu. Anji, apakah kau akan memanggilku ayah?

Inge, terima kasih untuk malam ini.

Kalimat singkat kukirimkan kepada Inge. Tak kuharap balasan, seperti yang sudah-sudah. Aku sadar, luka yang telah kugoreskan teramat dalam.

Aku sudah menceritakan semuanya. Anji yang memintaku untuk menelponmu tadi.

Malam ini terasa panjang, aku tak mampu lagi untuk berfikir. Apakah aku siap untuk menjadi ayah?

————-

Posted in Uncategorized

Memoar Pulang Kota, 1, Bis 157

Bakal jadi blog-post series dengan ritme sakumaha-uing … heuheuheu yaa harap maklum, begitulah adanya… bukan cuma moody, tapi sering lupa juga apa yang mau ditulis… oh iya, bukan cuma tanggal terbit yang entah kapan, tapi juga urutannya bakal tidak teratur…

Penulisan blog ini mungkin bisa diartikan sebagai coping-mechanism saya yang merasa “tercerabut” dari salah satu akar kehidupannya…

Rumah di Tangerang, yang ditempati sejak 1989 sudah laku terjual… bukan usaha yang mudah untuk Papa Mama ngejual rumah itu… alasan utamanya, kakek-nenek pengen menikmati masa tua di kampung halaman (kampungnya Papa sih tepatnya) … kehidupan di (penyokong) ibukota itu dirasa sudah cukup “mahal” bagi pensiunan tanpa uang pensiun… heuheuheuu… yah, lagipula Papa udah “booking” lahan untuk tidur abadi di tanah masa kecilnya itu… (Papa sih lahirnya di Jakarta, tapi dari piyik sampe lulus STM ya di kampungnya itu)

Ini dia suasana si bis yg dijadiin judul… bis jadul kalo kata si bocah… bis yang tiap digas bakal bunyi eblek eblek-eblek… belom lagi, keadaan bis yang tanpa AC di udara Jabotabek yang katanya tidak sehat, tapi lumayan terselamatkan kalo pas si bis gas-poll… angin sembribit mbablas masuk langsung dari jendela, gak pake malu-malu… πŸ˜‚πŸ˜‚ macem kentut gitu lah, gak pake malu-malu, tapi cukup malu-maluin, soalnya kaca jendela juga bakal ngasih musik dari getarannya…

Bis ini penyelamat tiap mudik ke Tangerang, karena dia menghubungkan Pasar Senen dan Tangerang…

Bis ini pula yang udah stand-by jam setengah 5 pagi di Terminal Senen, biasanya kereta dari Jogja tiba di Senen itu antara jam 1-4 pagi, jadi sembari nunggu subuhan dan bis, biasanya jajan-jajan di Pasar Kue Subuh…

Dan, dari Tangerang ke Stasiun Senen dia selalu ada, ngetem aja di pintu tol karawaci…

Kalo lagi cuapek banget, berduaan sama ndori, itu biasa ambil 3 seat sekaligus… alasannya, 1 seat buat tas, jadi lebih bebas juga space untuk duduk… tau sendiri lah ya ukuran seat di bis kota begini tuh gak ramah buat bokong-jembar-kayak-semar…

Kenapa berani ambil 3 seat? Ongkosnya 5 rebu rupyah saja Kakaaak!!! Gak pake mahal, jangan ditawar… (berasa di tanah abang, yg juga bakal kurindukan PAKE BANGET!!!)

Bis ini dibilang bis setan, soalnya waktu tempuh normal (tanpa macet yg berarti), karawaci-senen itu cuma 45 menit… pernah cuma setengah jam lewat dikit, itu bis pertama yg jalan jam 5 kurang dari senen… luarr biasaa!!! Pokoknya berasa kayak sensasi naek kora-kora…

Aahhh… sarana transportasi umum yang kaya-rasa ini yang jelas merupakan privilege untuk orang-orang yang hidup di ibukota (sekarang) dan sekitarnya… sementara di daerah lain, ada angkutan yang masih beroperasi diatas jam 2 siang itu merupakan anugerah…. hiyeess sayaah curcol

Dan ongkos lima rebu rupyah di Jekardah Raya ini bukan sesuatu yang bisa dibilang mahal, walo harga transjakarta 3500 sih…

Haii kamuuu, Bis 157… baik-baik yaa kamuu… hasta la vista!!!

Posted in Uncategorized

Pindah tempat nyoblos… (andai dibayar sama KPU)

Helooooooowwwww…

Luaaaamaa ajah yaks cyint gak apdeit dimarih…

Aslinya yg ditaro di draft udeh banyak ajeh, tapiii mood nya ntah kemana pas disuruh beresin kerjaan… kebiasaan banget lah yaks… πŸ˜‚πŸ˜‚

Naah, lagi rame masalah pemilu inih anuh onoh, baiklaahh sebagai panjat sosial, karena kutak mampu panjat tebing, kita juga mbahas ajah masalah si pencoblosan ini…

Pemilu ini, secara gk langsung jadi pemilu ketiga kami (gw dan simas), untuk nyoblos di luar wilayah yang sesuai sama KTP. Yaa naseeebb nomaden amat yaakss. Ambil positifnya, brarti rumahnya banyak… Alhamdulillah 😜

Pemilu pertama kali taun 2009 kayaknya sih gitu, TPS nya pindah ke KJRI cabang New York, untuk pileg milih dikirim ajah lewat pos, pas pilpres baru deh ke KJRI karena ngincer makanan, dan udah summer break simasnya, dan ngejar makanan heheheeheee

Pemilu taun 2014, domisili udah ke Kota Yogya, dengan alamat KTP di Tangerang. Klo ini ngurusnya sampe ke KPU Kota, bareng sama simas. Alurnya itu, kita ndaftar ke kelurahan, dapat pengantar untuk ke KPU, dari KPU dapet surat lagi untuk diserahkan ke petugas PPS di kelurahan… BHAIKLAAAHH… untung sudah jadi masa lalu…

Nah, untuk hal yg berkaitan sama postingan ini, simas gak terlibat seupil pun… All by myself!!! *nyanyik sambil mbengok πŸŽ™πŸŽ™πŸŽ€πŸŽ€

Hal pertama yg dilakukan adalah, ngecek ada atau nggaknya nama kita di DPT, nanti di web nya itu bakal keliatan sampe ke TPS mana kita seharusnya nyoblos di domisili asal…

Berikut screenshot-an tentang terdaftarnya gw di TPS domisili asal… itu kliatan kan yaks nama web-nya. Lindungihakpilihmu website resmi dr KPU.

Tahap 1, screenshot hasil pencarian kamu. Ini bakal jadi bukti untuk pengurusan A5 di tempat yang baru.

Okray, maju ke tahap selanjutnya… karena gw rada gak percayaan yaks sama tulisan di website dan dunia nyata untuk hal birotrasicrazy di endonesah raya tertjinta… jadinya gw ngecek ke dua tempat sekaligus.

Pertama, nemuin PPS di Kelurahan. Untungnya jarak ke kelurahan gk sampe 2 km dari rumah. Oke, ktemu sm Mbak I. Terus pas sama Mbak I ditanya, kita udah terdaftar apa belum di DPT. Kita kasih liat deh itu hasil SS yg dr web. Dicatet deh.

Nah mbak I bilang, cuma butuh fotokopi KTP dan KK. Dan bisa diurus di PPS Kelurahan, gak harus ke KPU Kota/Kabupaten.

Baiklah, karena gw gk percayaan sama ucapan Mbak I. Dari kelurahan, gw terus cuss k KPU Kabupaten yg jaraknya hampir 15 km dari rumah. Terus gw bingung knapa koq abis isi bensin udh tekor lageeh.

Nah, ada tempelan beginian deh di pintu KPU…

Okre, untuk yg nomer 1 itu udah dibahas diatas yaa…

Nah, ketemu lagi sama petugas pemilihan di KPU. Terus dijelasin sama mbaknya itu, A5 bisa diurus di keluahan, kecamatan, ataupun langsung di KPU.

PALING LAMBAT TANGGAL 17 FEBRUARI yah Gaeess!!!

Eh iya, sama petugas KPU terus dikasih nomernya Mbak I dong sebagai PPS setempat, bwahahaahaha… disitu saya merasa durhaka sama Mbak I.

Karena kudu ada fotokopi katepe punya simas, jadinya proses ngurus coblosan berlanjut besokannya.

Besokannya, balik lagi ke kelurahan. Dengan bawa segala fotokopian, dan janjian ketemu Mbak I.

Alhamdulillah yaa.. ternyata ada Ketua PPS tingkat Kecamatan yg pas lg ada urusan di Kelurahan situ. Jadinya A5 bisa langsung ditandatangani dan distempel. HORRAAAYY!!!

Klo semisal gk ada itu Bapak yg kudu tandatangan, surat A5 nya ya belom jadi. Terus, ntarnya kita bakal di wasap sm PPS kapan suratnya jadi. Terus, kita tinggal ambil ke kelurahan lagi.

Eh iya, karena ini gw kan ceritanya pendatang ya. Masih buta sama geografis lingkungan sekitar, gw minta sama mbak I nanti dikasih tau ancer-ancer untuk ke TPS gimana. Karena, posisi TPS sendiri belom ditentukan mau dimana. PPS, Lurah/Kades, dan Kepala Dukuh masih harus rapat buat nentuin dimana letak si TPS nya.

Yosss… siap menuju coblosan 2019… nanti di TPS tinggal tunjukin deh A5 dari kelurahan.

Ayooo Nyoblooooss!!!!

Posted in Uncategorized

mbolang Semarang bersama Ndori, Part 3, Museum Lawang Sewu

P_20180411_102352
Tugu Muda, Semarang

suatu museum hits, yang kata orang harus banget kesini kalo ke Semarang… baiklah, karena sayah anaknya penurut… (hweeekkss cuiiihhh….!!!) sayah ngikutin aja apa kata orang… πŸ˜›

dari Mesjid Agung Semarang, kembali ngorder ojol untuk cuss menuju Tugu Muda… eh katanya Lawang Sewu, koq Tugu Muda…

ya itu Tugu Muda ngejeglek di depan si Museum Lawang Sewu… 😎

P_20180411_101614

Ini dia harga tiket Lawang Sewu, kayaknya ini museum paling mahal selama jalan-jalan di Semarang. Karena, di Mesjid Agung Jawa Tengah dan nantinya di Museum Ronggowarsito harganya gak sebegini mahalnya….

plaaakk…. !!! ditampar netijen jekardah … harga segitu dibilang mahal… πŸ˜€

nengok dikit ke sisi sebelah kiri, dari loket tiket, ntar ada penampakan lokomotif tua… hitam gagah perkasa … P_20180411_102843

si ndori kan jadi tau kenapa disebutnya “KERETA API” … si loko tua ini masih punya ruang pembakaran batu bara…

seperti yang keliatan di plakat bagian tiket, udah liatan ya kalo museum ini dimiliki oleh PT. KAI, alias si perusahaan kereta api… udah kebayang lah isinya tentang sejarah dan perkembangan perkeretaapian di Indonesia tercinta…

biar dikata industri kereta api ada di Madiun, PT INKA, ataupun DAOP 1 itu ada di Jakarta, ternyataaaaa…. stasiun tertua itu ada di Semarang, sodara-sodara… salah satu efek dari Kota Semarang yang merupakan pelabuhan, maka moda transportasi lain juga kudu bagus, biar gak terjadi penumpukan bahan-bahan di pelabuhan… sedangkan si Museum Lawang Sewu sendiri itu berfungsi sebagai Kantor Jawatan Kereta Api pertama…

P_20180411_102715 Β  P_20180411_103914

ehh inii knapaa si wotpres gk bisa ngelompokin foto-foto kayak biasaa….. HELEEEPPP!!!!!!!!!!!!!!!! πŸ˜₯

ada bagian indoor dan outdoor di museum ini. Bagian indoor utk nyimpen koleksi-koleksi, ada maket, ada surat menyurat jadoel, sampe ada tiket KRL yg jaman dulu masih berupa potongan kerdus tebal warna-warni… pada bagian koleksi yg ini, si ndori cuma bisa ketawa-ketawa doang… kenapa bentuknya kayak gitu, jelek banget sih, dan komen-komen ngenyek lainnya… nceenn yoo bocaaahh!!!! 😦

P_20180411_105036Β P_20180411_104950

naahhh area outdoor biasanya untuk foto-foto dan istirahat kayak gini… heheheee, istirahat dulu sebelom lanjuut cuss ke TKP selanjutnyaaa….

perjuangan masih panjang, Jendral…!!! ini status sepatunya ndori masih belom jebol… pokoknya kita mubengin semarang sampe sepatunya si ndori ini jebol ambrol bwhahahaha πŸ˜€

Posted in Uncategorized

Kaderisasi Tukang Jajan Jalanan

Doohh… judulnya macam anak jalanan gituh yaks, padahal sih aslinya gak begitu … pengen nggaya pake judul “Raising a food-traveller”, tapi rasanya sungguh keminggris, sedangkan bahasan yang dibawah makanan asli Indonesia … pun rasanya, si kata RAISING ini macam hak prerogatif untuk kajian-kajian pola asuh anak bin parenting … gw ngomongin parenting yah jelas BHAAAYYYY …

Mana ada yaks tema parenting yang bakal gw bahas, sedangkan gw sendiri pelaku menyanyi merdu seriosa 10 oktaf sama si ndori, dan (hampir) tiap hari … si kata hampir disematkan biar kesannya masih ada hari tanpa nyanyian lah gituu πŸ˜‚πŸ˜‚

Gak tau sih awalnya kapan, tapi sejak masuk esde ini, si Ndori udh mulai mau makan kudapan yang keluar dari zona nyamannya dia … karena klo nggak, dia bakal denger nyanyian merdu emaknya… karena, jargon yang sering gw ucapin berulang-ulang untuk diri gw sendiri tuh

Cobain dulu…!!! Masalah suka dan gak suka itu belakangan…

Nah, pengen si ndori begitu juga… makanya dia sering nolak-nolak makanan yang njelehi penampakannya…

Sampe, awal April kmaren ngebolang berdua ndori ajah ke Semarang, naek bis dari Jombor … (udah lama pengen cerita, tapi belom nemu aja saatnya)

Sebagai bolang-baling senior (iyes emaknya ndori mah bolang baling alias kue bantal), pas ke Semarang itu tentu agenda utamanya jajan, selaen jalan-jalan yg murah meriah…

Menu khas Semarang yang jelas masuk dalam list itu, TAHU GIMBAL, karena gw fans berat segala bumbu ulekan kacang … jangankan pecel, gorengan macam pastel dan risol diguyur bumbu kacang encer ajah gw doyan …

Ndori awalnya nolak pas makan tahu gimbal, karena dia gak terlalu doyan bumbu kacang … dia lebih milih es teler, yg mana emang cucok beudd sama PUWANASNYA hawa di Semarang.

Sebagai emak yang tak kenal menyerah, iseng dong gw nyuapin si ndori gorengan gimbalnya aja pake bumbu kacang… gimbalnya garing kena bumbu kacang yg gk terlalu berat jadi enyaaaakkk…

Eh abis itu ndori nagih, hahahaa … akhirnya dia pesen sendiri, gimbalnya ajah 2 sama bumbu kacang … abis deh!!

Beberapa hari setelah balik Jogja, si ndori ngerajuk, minta tahu gimbal lagi… pengen tahu gimbal kayak yang di Semarang …

Pas ada hari yg si ndori pulang cepet, langsung meluncur ke daerah Pingit, demi berburu tahu gimbal. Dan pesenannya ndori cuma gimbal sama telor ceplok, diguyur bumbu kacang. Dan komennya ndori tentang tahu gimbal paling hit di Jogja …

Ambu, ini gimbalnya gak crispy kayak yang di Semarang… bumbu kacangnya kebanyakan kacangnya … ke Semarang lagi yuk Mbu, kirana mau makan tahu gimbal lagi Mbuu

ZONK!!! 😝😝 anak piyik umur 8 tahun udah bisa komen dan ngebandingin tekstur makanan…

apakah emaknya harus melakukan uji tekstur gimbal?? Abaikaaaannn

Sebulan berlalu sejak tragedi tahu gimbal di Pingit … sampe tadi malem, kebeneran simas ada kerjaan di area Alkid, njut emaknya ndori kepengen makan TAHU TEK yg di Jalan Bhayangkara, RS PKU Jogja ke arah utara sana lah …

Si emak udah siap dengan adanya penolakan dari ndori nantinya, udah nyiapin daftar menu yg lain sudah disiapkan … dan ndori rikwesnya ayam bakar yang enak…

Pesen tahu tek cuma 1, karena bakal makan sendiri, tapi sengaja gak minta dicabein karena takut si bocah minta telor dadarnya … hasilnya … TADAAAA…!!!

piring jadi hak milik, dan si emak kebagian tinggal beberapa potong lontong dan beberapa potong kentang serta toge …

K : Mbu, tahunya mana? Katanya tahu tek, tapi koq gk ada tahunya …

A : tahunya udah dkocok bareng telor dadarnya itu laahhh

K : oh brarti kirana makan tahunya?

A : yaaaeyalaaaahhh, ambu cuma dapet lontong sama toge

K : Mbu klo besok besok besok kesitu lagi, kirana mau telor tahunya aja ya sama bumbu

Hadeeeeh…… curiga bakal ada tanda-tanda sakau tahu tek begini ceritanya…

Alhamdulillah ya PROGRAM KADERISASI JAJAN MAKANAN JALANAN oleh Ambu terbukti BERHASIL sejauh ini … cuma kalo pas sakaunya ajah dia minta ini itu susah nyarinya… heuuu πŸ˜ͺπŸ˜ͺ

Posted in travel, Uncategorized

Bis Damri Ringroad

judul yang rada absurd yaah… soalnya sebenernya gw gak tau nama asli dari si bis inih apa nyehehe… yang jelas bukan TransJogja …

sepanjang pengetahuan gw sih, ini udah pisah dari manajemen TransJogja, soalnya pas kmarenan gw ke shelter Trans untuk naek bis inih, sama petugas Transnya malah ‘diusir’ gituh deh, disuruh langsung ke bagian si Damri … seragam petugasnya pun beda, untuk sopir dan kenek (kondektur) bis ini, pake seragam resmi ala Dishub gitu … dan petugas checker nya itu bukan di shelter transjogja…

Jpegini jadwal resmi tentang si Bis Damri ini … tarifnya 4 rebu rupiah, jauh ataupun dekat … kmarenan gw 4 rebu rupiha itu puas pake banget menjelang enegh, karena gw naeknya putaran penuh alias full 1 loop …

okeh itu tulisan diatas ada yg kepotong, untuk DAMRI A, dilayani 3 bis … untuk DAMRI B, dilayani 2 bis … gw naek yg A kmaren itu …

gw naek dari Terminal Giwangan, dan turunnya juga di Giwangan πŸ˜€
yah semacam gak mau rugi gitu deh gw πŸ˜›
udah cukup tekor lah ya abis liburan kmaren. bwehehehee…

sejauh yang gw rasain kmaren, bis nya cukup on-time *topbanget *setorjempol*
gw naek yang 11.30 menurut jadwal, tapi si bis resmi tancap gas dari terminal itu 11.32 … udah cukup on-time kan menurut jam karet endonesah-raya-tercinta inih …

dari Giwangan ke Bandara Adisucipto, beneran ditempuh dalam waktu setengah jam, 26 menitΒ to-be-exactΒ  dengan keadaan jalanan arah bandara yang ramai lancar berhubung hari terakhir liburan kan yaaa…

PERHATIAN :
untuk yang kepengen naek bis ini dari Bandara, baik mau ke Jombor atau Giwangan, nyetopnya jangan di shelter bis TransJog … dengan terpisahnya manajemen, nanti diminta bayarannya dobel… udahlah bayar buat masuk shelternya seharga tiket transjog (Rp 3500) … klo buntutnya naek bis ini, bakal ditarikin lagi Rp 4000 pas diatas bis.
klo mau nyegat bis ini, bisa anek dari pangkalan Damri Bandara, cukup di bagian sebrangnya ajah… bukan rute damri yang arah luar kota… malah lebih deket dari eskalator keluar itu sih menurut gw Β πŸ™‚

dari bandara sampe Jombor juga okeh koq waktunya, masih masuk diΒ time schedule itu … nah, minusnya adalah si bis ini ngetem di Jombornya lama beud 😦

sesuai jadwal harusnya dia udah sampe Pengkolan Gamping, lha ini malah baru mau jalan dari Jombor 😦

ehh tapii, dengan ngetemnya segitu, si bis ‘cuma’ telat 10-15 menit lah pas sampe Giwangan lagi … ocree laah… termaafkan B-)

gw sih mikirnya si bis ini karena belom terlalu rame penumpang jadinya ‘berani’ untuk ngetem seenak udelnya gitu di Jombor, soalnya dia tau, di tengah jalan nanti bakal dikit juga ngangkut penumpangnya …

tapi, penumpang bisa turun dimana ajah koq … gak harus di shelter transjog… pokoknya selama masih di ringroad, kitanya tinggal bilang ajah mau turun dimananya …
kemaren itu ada yang minta turunnya bukan di perempatan Kentungan, tapi nggeser dikit dari prapatan itu … atau minta turun di perempatan Dongkelan juga bisa …

membantu banget sih untuk yang selama ini suka komen kalo penempatan halte-halte transjog tidak ramah untuk penumpang …

JpegΒ ini ada turis lokal, numpang ngider ajah wkakaa… sampe sama kernetnya kita mah gak ditanyain mau turun dimana… saking liat kayaknya kita cuma kepengen ngider ajah …

 

Jpegini nama lengkapnya si Bis kayaknyaΒ something-jalur perintis gitu… bis nya jelas armada baru cyint, masih kinclong kinyis-kinyis …

baydewey,
korsinya biru-biru gitu … jadi ngingetin gw sama bis CT-Transit dan Middletown Bus… uhuukssss…. *gakmoveonhardcore*

bye bye Girlmore Girls πŸ˜›

kiri : CT Transit Bus, nomer 55 / 55x, rute : Hartford – Middletown
kanan : Middletown Bus, rute : ngider Middletown

 

 

Posted in Uncategorized

sampurasun… rampes …

itu semacam sapaan dalam bahasa sunda,
klo di bahasa jawa bisa disamakan dengan kulo nuwun – monggo
meminta-memberi izin untuk melintasi teritoriΒ  yang bukan miliknya …

aslinya sih gw sendiri dan keluarga besar gw udah gak pernah make kata-kata sapaan itu. ya maklum ajah sih, si mama cuma numpang mbrojol di Bandung, jadi hampir seluruh masa kecil, dilanjut masa remaja dan dewasanya abis di Jakarta.

Gw hampir lupa ada kata-kata itu, kecuali saat Didi Petet meninggal, terus film-film kabayan diputer maraton di tipi-tipi… yeaaahh, sungguh jadoel bukan kata sapaan itu. Kabayan jamannya Didi Petet, terus yang jadi iteung nya Nike Ardilla… dan sekarang keduanya udah almarhum.

eh eh, terus seorang temen lama menyapa pake kata itu lagih …
huhuuuuyy… okeh, gw rada ngerasa dosa dimasa lalu sama temen gw yang sebijik inih
si doi adalah Ainiy, dia menyapa dengan sampurasun dengan jenis yang berbeda….

Taaadaaaaa….. !!!

Jpeg
sampurasun, pasopati

yeaaahh…..
yipee…..
akhirnya ada loh tas lokal, bin TERJANGKAU, yang mengangkat tema lokal jugak… selama ini kan gw nemunya yah tas-tas kanvas lokal gitu ngangkat tema nya semacam shabby chic, London Double Decker, atau bahkan bintang-bintang ala star spangled banner … see, what I mean, huh?!Β  πŸ˜• :-S

penting yah itu kata TERJANGKAU sampe gw gedein dan gw tebelin… karena emang begitu adanya … sebagai mamak-non-urban alias mamak-ndesit yang dimana UMR kotanya bisa cuma setengah kota besar lainnya … persoalan harga ini masuk banget di-itungan gw … PENTING… !!!

dan lagih yaks, khas nya cewek banget gak sih… klo punya sesuatu pengennya gak ada yang nyamain … dimanah coba mo naro muka klo ternyata tas nya ada yang nyamain… *ya taro ajah sih disitu gk usah dikemana2in*

nah, si sampurasun ini begitu adanya … dia motifnya jelas gk pasaran lah yaaa…
brand ini berani tandatangan kontrak khusus sama desainer untuk motif-motif yang mereka punya … selaen itu, mereka punya tema bin benang merah antara produk-produknya … sesuai dengan jargon mereka

cacandakan asli ti Bandung

yang artinya mereka bakal ngangkat kearifan lokal tentang Bandung dan legenda-legenda dari ranah sunda…

Bandung masa lalu diangkat lewat seri legenda,

  • Tangkuban Parahu … siapa yang gak kenal cerita Sangkuriang … nendang perahu trus jadi gunung
  • Cepot, tokoh pewayangan yang jenaka dan udah jadi maskot dari sejak jaman baheula
  • Kabayan, kata-kata borokokok yang terkenal berkat Abah

Bandung masa kini… Siapa yang gak kenal sosok Kang Emil aka Ridwan Kamil. Walikota ketjeh yang eksis di dunia maya. Kang Emil diangkat jadi seri sendiri. Motifnya ada

  • Onthelan, kang emil dengan sepeda onthel
  • Si Cinta, pose romantis dengan sang istri
  • Pasopati, penggambaran kemajuan pembangunan di sekitar Bandung

kece punya bukaan?? dan yang jelas gk pasaran dong!!!

sampus
wohooo … banyak pilihan kece … IG : @sampurasun_bdg

 

eehh eehh… gw nulis panjang ginih dibayar berapa sama si Niniy..
sumprit yaakss… gw gk dibayar sama si niniy …. *tapi niy gw gk nolak klo dikirimin si cepot*
itu tas mejeng bareng gw ajah, hasil nebus dengan transperan di atm sambil nunggu pesenan nasgor gw mateng eh curcol

yang gw suka dari tas ini :

  1. bullyable , alias bisa banget djeblusin segala macem … dibikin dari kanvas tebel dan ada lining bin kantong dalemnya gitu buat tempat konci dan hape… yang mana merupakan PR banget klo nyari buat #mamakojeg πŸ˜‰
  2. talinya kece gilak !!! walo dikata kulit sintetis, tapi ini tebel dan ada tekstur suede yang gw suka dari kulit :-O
  3. gak pasaran bin colorful, yah semacam gk sadar badan sih gw suka sama sesuatu yang rame dan berwarna-warni … but, hey! that’s me!!! B-)
  4. ini dia yang penting … HARGANYA RAMAH BIN CUCOOK CYINT πŸ˜€
Jpeg
ndori kan mau mejeng jugak …